Selama lebih dari 30 tahun Suwoto telah menjadi peneliti nuklir, dan Suwoto melihat tidak adanya potensi masyarakat Indonesia yang minat terhadap energi nuklir. Publik yang menerima energi nuklir di negara Indonesia yang memiliki penduduk terpadat di Asia Tenggara ini merosot menjadi 49,5 persen, angka ini menurun akibat bencana nuklir Fukushima Jepang pada tahun 2011, dibandingkan pada tahun 2010 yang memiliki angka minat sebesar 59,7 persen.
Melansir dari CNA.com dalam lamannya. Tetapi angka minat tersebut kembali pulih dan meningkat ke tingkat tertinggi 77,5 persen pada tahun 2016, hal ini di ungkapkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang melakukan survei tahunan dari 2010 sampai tahun 2016. Batan dan beberapa lembaga penelitian pemerintah saat itu telah dikonsolidasikan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional, tempat di mana Suwoto bekerja.
Tidak bisa dipungkiri lagi, pria berusia 58 tahun ini, ia percaya energi nuklir bisa membantu negara Indonesia memenuhi kebutuhan listrik yang semakin lama terus meningkat. Dilansir dari CNA.com, “Masyarakat perlu dididik. Mereka perlu belajar tentang sisi positif dari (energi) nuklir – manfaat yang dapat mereka nikmati,” ujarnya pada program Insight. “Penelitian nuklir saat ini sangat maju.”
Suwoto lah yang bertanggung jawab pada operasi reaktor untuk Reaktor Serba Guna G A Siwabessy, yang terletak 39 kilometer di selatan Jakarta dan diberi nama sesuai nama mantan menteri kesehatan Indonesia. Reaktor ini awal mulanya beroperasi pada tahun 1987 dan memiliki daya tampung sebesar 30 megawatt – yang cukup untuk memberikan daya pada 30.000 rumah, tetapi biasanya reaktor tersebut beroperasi pada 15 megawatt. Reaktor ini menggunakan bahan uranium dan menghasilkan bahan radioaktif yang disalurkan pada keperluan medis dan keperluan lainnya. Dikutip dari CNA.com.

Saat Insight mendapat akses ke fasilitas tersebut baru-baru ini, Samarium-152, bahan berbentuk logam tanah jarang samarium, sedang diiradiasi, diledakkan dengan sinar neutron, untuk membuat Samarium-153 yang akan digunakan dalam terapi kanker tulang. Indonesia sudah lama mempertimbangkan penggunaan energi nuklir, akan tetapi energi nuklir dalam undang-undang yang diusulkan ditujuankan untuk mempromosikan energi terbarukan dan energi baru menghidupkan kembali perdebatan tahun ini mengenai sumber energi yang masih diperdebatkan.
Pada dasarnya energi nuklir tidak dianggap sebagai bentuk energi terbarukan. Tetapi nuklir adalah sumber energi rendah karbon dan, yang di awasi oleh undang-undang yang diusulkan Indonesia, dianggap sebagai sumber energi baru. Jika melihat jauh kedepan, pada tahun 2045, ada suatu rencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir, itu akan mendorong negara mencapai tujuannya untuk mengalihkan beberapa pembangkit listrik tenaga batu bara lebih awal diiringi dengan memenuhi kebutuhan energi. Menurut Suwoto dalam laman CNA.com.






