Setelah Rasulullah mengalami ujian yang luar biasa beratnya di Thaif, sebagaimana yang disampaikan Nabi kepada ‘Aisyah, ketika dakwahnya mendapatkan kemenangan dan telah memiliki negara.
Tanya ‘Aisyah, “Apakah ada suatu yang lebih berat bagimu melebihi peristiwa Perang Uhud ya Rasulullah ?” Rasulullah pun menjawab, “Aku benar-benar telah mendapatkan dari kaummu apa yang telah aku alami, itu lebih berat ketimbang apa yang pernah aku alami. Ketika aku menawarkan diriku kepada putra Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal (salah seorang pemuka Thaif), namun tidak mau memenuhi apa yang aku inginkan. Aku pun pergi meninggalkannya dengan raut wajah penuh dengan kesedihan dan aku pun merasakan kesedihan hingga sampai di Qarn at-Ta’alib [Qarnu al-Manazil].”
(Lihat, Ibn Hajar, Fath al-Bari, Juz VI/312-315)
Setelah mendapatkan bisyarah dari langit (saat di Wadi Nakhlah), ketika Allah mengirim Malaikat Jibril dan Malaikat penunggu gunung untuk membalas perlakuan Bani Tsaqif di Thaif dan jin-jin yang berdatangan mendengarkan bacaan Rasulullah saat di lembah itu, Rasulullah akhirnya kembali ke Makkah dengan perlindungan dari Muth’im bin ‘Adi. Peristiwa Thaif tidak menyurutkan nyali Rasulullah untuk terus berusaha mencari dukungan [nushrah] dari suku dan kabilah lain.
Imam az-Zuhri menuturkan bahwa kabilah dan suku yang pernah didatangi oleh Rasulullah untuk didakwahi, diajak memeluk Islam dan memberikan “nushrah” untuk menolong dakwahnya adalah Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Bani Muharib bin Khashfah, Bani Fazarah, Bani Ghassan, Bani Murrah, Bani Hanifah, Bani Sulaim, Bani ‘Abas, Bani Nashr, Bani Buka’, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani al-Harits bin Ka’ab, Bani ‘Udzrah dan Bani Hadharimah, namun tak seorang pun dari mereka yang bersedia memenuhi seruannya.
(Lihat, Syaikh ‘Abdullah an-Najadi, Mukhtashar Sirah ar-Rasul, hal. 149)
Hanya saja kabilah dan suku yang disebutkan oleh az-Zuhri ini tidak semuanya didatangi oleh Rasulullah pada satu tahun yang sama, juga tidak pada satu musim haji yang sama, melainkan sudah didatangi sejak tahun ke 4 kenabian, hingga akhir musim haji, sebelum hijrah ke Madinah. Memang ada kabilah-kabilah tersebut yang bisa dipastikan telah didatangi oleh Rasulullah pada tahun ke 10 kenabian, sebagaimana yang disebutkan oleh al-‘Allamah al-Manshur Fauri [Lihat, Rahmatu li al-‘Alamin, Juz I/74; an-Najib Abadi, Tarikh Islam, Juz I/125].
Mengenai respon berbagai suku dan kabilah yang pernah didatangi oleh Rasulullah itu telah diuraikan oleh Ibn Ishaq secara singkat, sebagai berikut :
1- Bani Kalb telah didatangi Rasulullah, salah satu suku yang didatangi adalah Bani ‘Abdullah. Mereka diajak Rasulullah agar mengimani Allah dan Rasulullah menawarkan dirinya kepada mereka. Sampai Rasulullah harus menyampaikan kepada mereka, “Wahai Bani ‘Abdullah, sesungguhnya Allah telah memilih nama terbaik untuk orang tua kalian, namun mereka tetap tidak menerima apa yang Rasulullah sampaikan kepada mereka.”
2- Bani Hanifah telah didatangi oleh Rasulullah di rumah-rumah mereka, mereka telah diajak oleh Rasulullah untuk mengimani Allah dan Rasulullah juga menawarkan dirinya kepada mereka, tetapi mereka tidak memenuhi seruannya, bahkan tak ada satu pun bangsa Arab yang lebih buruk penolakannya kepada Rasulullah melebihi penolakan mereka.
3- Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah juga telah didatangi oleh Rasulullah, mereka telah diajak oleh Rasulullah untuk mengimani Allah dan Rasulullah juga menawarkan dirinya kepada mereka. Buhairah bin Firas, salah seorang tokoh mereka menyatakan kepada Rasulullah, “Demi Allah, kalau sampai aku mengambil pemuda Quraisy ini, maka dengannya aku akan menguasai bangsa Arab.” Lalu dia bertanya, “Bagaimana menurutmu jika kami membai’at kamu dalam urusanmu, kemudian Allah memenangkan kamu terhadap siapa saja yang menentangmu, apakah kami berhak untuk mendapatkan urusan ini setelahmu ?” Rasulullah menjawab, “Urusan ini urusan Allah. Dia akan memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”
Buhairah kemudian menimpalinya, “Bagaimana nalarnya, kami menyerahkan leher kami untuk disembelih bangsa Arab dalam rangka membelamu, lalu ketika Allah memenangkan kamu, kemudian urusan ini tidak menjadi milik kami ? Kalau begitu kami tidak membutuhkan urusanmu.” Mereka pun menolaknya dan mengusir Rasulullah.
4- Bani Kindah didatangi oleh Rasulullah di rumah-rumah mereka, di antara mereka ada pemuka suku yang bernama Malih. Mereka diajak oleh Rasulullah untuk mengimani Allah dan Rasulullah juga menawarkan dirinya kepada mereka, namun sayangnya mereka tidak mau menerima ajakan Rasulullah. Dalam riwayat lain, Nabi bertanya, “Dari manakah kaum itu ?” Mereka menjawab, “Dari penduduk Yaman.” Rasulullah bertanya, “Yaman mana ?” Mereka menjawab, “Dari Kindah.” Rasulullah bertanya lagi, “Dari Kindah yang mana ?” Mereka menjawab, “Dari Bani ‘Amir bin Mu’awiyah.” Rasulullah bertanya, “Apakah kalian memiliki sesuatu [untuk mewujudkan] kebaikan ?” Mereka bertanya, “Apa itu ?” Rasulullah menjawab, “Kalian bersaksi bahwa tidak ada Dzat yang berhak disembah kecuali Allah, mendirikan shalat dan mengimani apa yang dibawa dari Allah.”
Ada juga para syaikh kaumnya yang bertanya kepada Rasulullah, “Jika kamu menang, apakah Engkau akan menjadikan kekuasaan itu menjadi milik kami ?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya kekuasaan itu milik Allah, Dia akan berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.” Mereka mengatakan, “Kalau begitu kami tidak membutuhkan apa yang Engkau bawa kepada kami.”
Rasulullah juga mendatangi Bani Hamdan saat musim haji, ketika mereka di Arafah, tempat wukuf. Rasulullah sampaikan kepada mereka, “Apakah ada di antara kalian yang bisa membawaku kepada kaumnya ? Karena kaum Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan firman Tuhanku ‘Azza wa Jalla.” Maka seseorang dari Bani Hamdan mendatangi Rasulullah. Rasulullah bertanya, “Dari manakah kamu ?” Orang itu menjawab, “Dari Hamdan.” Rasulullah bertanya, “Apakah kaummu mempunyai kekuatan [untuk melindungi dakwah] ?” Dia menjawab, “Tentu.” Tapi orang ini khawatir kalau Rasulullah akan disepelekan oleh kaumnya. Rasulullah pun bersabda kepadanya, “Aku akan mendatangi mereka tahun depan. Aku akan mendatangimu tahun depan.” Dia menjawab, “Baik.”
Dia pun meninggalkan Rasulullah pada bulan Rajab, delegasi kaum Anshar pun tiba. Ini telah diriwayatkan oleh empat pemilik kitab Sunan dari berbagai jalur. At-Tirmidzi berkomentar, “Hadits ini statusnya hasan shahih” [Lihat, Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz I/430].
Pendek kata, nushrah yang diharapkan oleh Rasulullah pada saat itu belum kunjung tiba. Justru sebaliknya, apa yang dialami oleh Rasulullah menggambarkan sebaliknya. Tetapi Rasulullah tidak pernah putus asa, bahkan ketika Rasulullah mendatangi suku dan kabilah yang datang haji, di Arafah saat mereka wukuf selalu dikuntit oleh Abu Lahab. Apa yang disampaikan oleh Nabi kepada mereka selalu dimentahkan dan diserang balik.
Semua peristiwa itu disaksikan oleh ‘Ali dan Abu Bakar yang menemani Rasulullah pada saat mengontak mereka di Afarah, begitulah perjuangan Rasulullah dalam mendapatkan nushrah, penuh berliku, tidak mudah dan melelahkan. (KH. Hafidz Abdurrahman)
#PerjuanganMenujuKebangkitan








