Safari Ans, seorang wartawan senior dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), melaporkan kepada Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Republik Indonesia. Surat itu berkaitan dengan penyelidikan yang dia lakukan tentang aset Bangka Indonesia di perbankan global.
Yang Terhornat Menteri Keuangan Republik Indonesia Bapak Purbaya Yudhi Sadewa.

Saya seorang wartawan senior. Saya berpendidikan S3 Unpad, telah melakukan investigasi jurnalistik selama 35 tahun di Indonesia, Eropa, Cina, dan Amerika Serikat. Saya menyelidiki apakah bangsa Indonesia memiliki aset besar di perbankan global. Ternyata itu tepat, namun, tidak dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Bukan lagi milik Republik Indonesia, tetapi bangsa Indonesia.
Nilainya sangat fantastis, dengan keberadaannya di 886 rekening bank di seluruh dunia, menurut laporan Bank Dunia Grup tahun 2010 dan 2012. Saking besarnya, itu membuat saya ragu. Namun, saya menemukan jawabannya setelah melakukan penyelidikan. Tampaknya benar, kebanyakan orang tidak menyadarinya.
Berdasarkan dokumen bank yang saya temukan. utamanya dari sumber dan lembaga resmi. Saya membuat laporan khusus. Saya pertama kali menyampaikan laporan ini kepada Presiden Prabowo Subianto. Namun, selama tiga bulan, surat saya belum mendapat tanggapan. Laporan berisi 604 halaman. “Seabad Aset Global Nusantara”. Saya pikir saya harus membuat buku kedua jika tidak ada pejabat negara atau pemerintah yang tertarik. Setelah publikasi buku saya “Harta Amanah Nusantara” pada tahun 2014.
Aser Global Nusantara dimulai (yang dicatat) tahun 1917 saat terjadi The Promissed Land. Seharusnya ada revisi seratus tahun kemudian, tetapi revisi itu tidak terjadi di tengah gejolak dunia saat ini. Jatuh tempo pada tahun 2017.
Program Kemakmuran Nusantara tersedia dalam Aset Global Nusantara. Dana Abadi Rakyat Indonesia adalah komponen utama dari inisiatif tersebut. Dana Abadi Rakyat Indonesia di flotasi sebesar sekitar Rp 5 juta per bulan per KTP dan berlaku sepanjang masa. Tanpa memperhatikan siapa pun di sekitarnya, yang paling penting adalah WNI, dan kemudian ada Dana Tabungan Bangsa Indonesia. Pada tahap awal, dana sebesar Rp 13.000 triliun (tiga belas ribu triliun) telah dialokasikan untuk proyek ini. Pembangunan Indonesia Emas akan datang lagi pada tahun 2045.
Pemerintah Indonesia dapat menggunakan dana ini melalui program pinjaman tanpa bunga dengan tenor yang disepakati.
Selain itu, pengelola Aset Global Nusantara akan membiayai pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi secara keseluruhan. Sepertinya akan membutuhkan biaya sebesar USD 10 miliar, atau setara dengan Rp 165 triliun. Anggaran ini telah disediakan melalui program hibah. Tidak mungkin bagi Indonesia untuk meminta bantuan dari negara Arab yang kaya. Malah, karena Indonesia adalah negara yang besar. Sekarang kita memiliki dana sendiri. Itu sudah cukup.
Sengaja saya menulis surat terbuka ini. Untuk memberikan gambaran tentang seberapa sulit bagi saya untuk melewati pertahanan birokrasi pemerintahan, Alasannya sederhana dan tidak masuk akal. Meskipun kita dianggap kaya oleh orang asing. Alasan mengapa masyarakat Indonesia malah tidak percaya.
Demikianlah surat terbuka saya ini. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat rakyat dan bangsa Indonesia. Aamiin.
Salam
Safari Ans.








