Iran Terancam Krisis Kepemimpinan Karena Pembicaraan Nuklir Buntu

Sejak para ulama menjabat sebagai pemimpin Iran sejak revolusi Islam tahun 1979, ada ancaman krisis kepemimpinan. (Sumber Foto : Shutterstock)
0 0
Read Time:2 Minute, 12 Second

Sejak para ulama menjabat sebagai pemimpin Iran sejak revolusi Islam tahun 1979, ada ancaman krisis kepemimpinan. Ini adalah hasil dari blokade ekonomi dan sanksi yang dikenakan oleh negara-negara Barat, terutama Inggris-Prancis-Jerman, terhadap Iran.

PBB akan mempertahankan sanksi ekonomi terhadap Iran, seperti dilansir reuters, setelah pembicaraan tentang program nuklir Iran gagal.

Selain itu, Reuters mengumpulkan data dari empat pejabat Iran dan dua orang dalam pemerintahan yang menyatakan kekhawatiran tersebut.

Israel akan kembali menyerang fasilitas nuklir Iran jika Iran gagal mencapai kesepakatan tentang program pengembangan nuklirnya. (Sumber Foto : reuters.com)

Ada dilema karena setuju dengan tuntutan bahwa negara-negara Barat akan melepaskan nilai-nilai yang telah dipegang oleh para pemimpin Iran. Ini berarti mereka tidak akan tunduk pada tekanan dari Barat.

“Para pemimpin ulama terjebak di posisi yang sulit, keberlangsungan Republik Islam terancam,” kata seorang pejabat Iran.

“Masyarakat kita tak sanggup lagi menerima tekanan ekonomi, atau perang baru,” sambungnya.

Ini menambah kekhawatiran karena ada kemungkinan Israel akan kembali menyerang fasilitas nuklir Iran jika Iran gagal mencapai kesepakatan tentang program pengembangan nuklirnya.

Diperkuat oleh pernyataan yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang berani menyerang Iran jika mereka terus melakukan program pengayaan uranium mereka, yang memungkinkan pembuatan senjata nuklir.

“Saya rasa, peluang pecah perang baru terasa signifikan. Sebab, Israel yang masih agresif mendapat dukungan dari AS,” kata bekas anggota parlemen Iran, Gholamali Jafarzade, kepada media Iran, pada Kamis (25/9).

Sanksi sebelumnya terhadap Iran telah diterapkan oleh Inggris, Prancis, dan Jerman sejak 28 Agustus 2025. Mereka menuduh Iran melanggar perjanjian nuklir mereka tahun 2015. Negosiasi di sela Sidang Umum PBB tidak berhasil, dan sanksi ini mulai berlaku pada Sabtu kemarin.

Baik Negara Barat maupun Israel mengklaim bahwa Teheran menggunakan program nuklirnya untuk menghasilkan senjata, meskipun Iran mengklaim bahwa program nuklirnya hanya digunakan untuk tujuan damai.

Kekhawatiran yang Dimiliki Masyarakat Iran

Sanksi ekonomi ini telah membuat banyak orang Iran marah. Salah satunya adalah Shima, yang mengajar di sekolah dasar.

Ia khawatir kehidupan mereka akan semakin terganggu setelah sanksi ekonomi, terutama karena mereka telah hidup dalam sanksi ekonomi selama beberapa dekade.

“Kita sudah berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar, tambahan sanksi artinya tambahan tekanan ekonomi. Lalu, apakah kita bisa tahan,” kata Shima, ibu dua anak ini, kepada reuters.

Media Iran melaporkan harga makanan naik tajam dalam beberapa bulan terakhir, serta harga rumah dan peralatan, sementara inflasi di Iran saat ini sudah mencapai 40%, menurut beberapa pengamat.

Sejauh ini, Iran bertahan karena dukungan China. Negeri Tirai Bambu adalah salah satu dari beberapa negara yang masih berdagang dengan Iran sejak sanksi ekonomi tahun 2018, dan merupakan pembeli utama minyak Iran.

Namun, sanksi terbaru PBB menghantui ekspor minyak.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today