Indeks Kepercayaan Industri Cetak Mencatat Rekor Baru dalam 49 Bulan

awal tahun 2026, tren yang semakin positif terlihat dalam kinerja industri pengolahan nasional. (Sumber Foto : Dok Humas Kemenperin)
0 0
Read Time:3 Minute, 50 Second

Dengan awal tahun 2026, tren yang semakin positif terlihat dalam kinerja industri pengolahan nasional. Pada Januari 2026, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat sebesar 54,12, meningkat 2,22 poin dari Desember 2025.

Menurut Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), capaian ini merupakan yang tertinggi sejak peluncuran awal IKI pada November 2022.

“Capaian ini juga lebih tinggi 1,02 poin dibandingkan Januari 2025, yang menandakan penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek usaha di awal tahun (2026),” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dilansir dari Kompas.com, Jumat (30/1/2026).

Secara makro, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Januari 2026 dianggap menunjukkan stabilitas bagi dunia usaha.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga nilai tukar rupiah stabil dan memastikan pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen konsisten.

Sebaliknya, inflasi tercatat meningkat menjadi 0,64% setiap bulan dan 2,92% secara tahunan pada Desember 2025.

Akhir tahun dan gangguan pasokan merupakan komponen utamanya. Industri manufaktur di seluruh negeri masih berada pada tahap awal pertumbuhan sektor riil.

Pada Desember 2025, Purchasing Managers Index (PMI) S&P Global Manufaktur Indonesia mencatat nilai 51,2.

Meskipun mencapai tingkat yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, pencapaian itu menunjukkan peningkatan selama lima bulan berturut-turut.

Selain itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) meningkat menjadi 51,86 persen pada triwulan IV 2025, dan diperkirakan akan terus meningkat pada triwulan I 2026.

Kinerja subsektor bisnis

Sejak Januari 2026, struktur IKI menunjukkan perbaikan yang merata, kata Febri. Dari 23 subsektor industri pengolahan, hanya tiga yang mengalami kontraksi dan 20 yang sedang berkembang.

Subsektor yang sedang berkembang ini memberikan kontribusi sebesar 94,7% terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas.

Inflasi tercatat meningkat menjadi 0,64% setiap bulan dan 2,92% secara tahunan pada Desember 2025. (Sumber Foto : Freepik)

“Kami menilai peningkatan IKI terjadi karena pelaku industri mulai mengintensifkan kegiatan produksi untuk merespons dan memenuhi peningkatan permintaan menjelang Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, serta hari raya keagamaan lainnya,” jelas Febri.

Dua subsektor yang memiliki nilai IKI tertinggi adalah industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer, dan industri mesin dan perlengkapan.

Febri menyatakan bahwa tanggapan pelaku industri terhadap surat yang dikirim Menteri Perindustrian (Menperin) kepada Menteri Keuangan (Menkeu) juga berdampak pada peningkatan angka IKI di subsektor tersebut.

“Meski demikian, usulan tersebut masih dalam proses pembahasan antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu),” katanya.

Sementara itu, sektor-sektor yang masih mengalami kontraksi termasuk industri kulit, produk kulit dan alas kaki, kayu, produk kayu dan gabus, dan sektor komputer, barang elektronik, dan optik.

Faktor-faktor seperti penurunan permintaan ekspor, musim, dan kondisi geopolitik global antara lain memengaruhi interaksi di subsektor ini.

Seluruh variabel IKI pada Januari 2026 berada di zona ekspansi, menurut komponen penyusunnya.

Setelah mengalami kontraksi selama tujuh bulan berturut-turut, indeks pesanan tercatat naik 2,51 poin ke level 55,27, sedangkan indeks produksi naik 6,45 poin ke level 54,86.

Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, indeks persediaan tetap pada level 50,14.

Febri mengatakan bahwa karena industri sedang menghasilkan banyak produk, variabel produksi kembali ke zona ekspansi.

“Saat ini, industri tengah memproduksi barang untuk memenuhi peningkatan demand hari besar keagamaan pada Februari dan Maret 2026,” katanya.

Optimisme pebisnis

Survei IKI menunjukkan bahwa kegiatan bisnis secara umum masih tergolong baik dari sisi pelaku usaha.

Sebanyak 78,5% orang yang menjawab menyatakan bahwa kegiatan usahanya telah membaik dan stabil, naik dari Desember 2025.

Selain itu, tingkat optimisme pelaku industri naik menjadi 72,5%, dan tingkat pesimisme turun menjadi 4,5%.

Pada Januari 2026, IKI yang berfokus pada pasar ekspor tercatat sebesar 54,62, meningkat 2,26 poin dari Desember 2025.

Sementara itu, IKI yang berfokus pada pasar domestik juga mengalami peningkatan dan terus berkembang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa, di tengah tantangan pasar global yang belum sepenuhnya pulih, permintaan dalam negeri terus menjadi pilar utama kinerja industri.

Meningkatnya realisasi investasi dalam industri pengolahan mendukung penguatan IKI, kata Febri.

Investasi dalam industri pengolahan mencapai 218,2 triliun rupiah pada triwulan IV-2025, menyumbang 43,9 persen dari total investasi nasional.

Ada peningkatan kapasitas dan perbaikan mesin di industri, seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan impor barang modal sebesar 17,27 persen setiap tahun hingga November 2025.

Febri menegaskan bahwa Kemenperin akan terus memperkuat kebijakan strategis untuk mempertahankan momentum pertumbuhan industri. Ini akan mencakup meningkatkan pasar domestik, meningkatkan daya saing sektor berorientasi ekspor, mendalami struktur bisnis, dan mempercepat transformasi sektor hijau dan digital.

“Capaian IKI Januari 2026 menjadi modal awal yang kuat bagi industri nasional untuk terus tumbuh berkelanjutan sepanjang tahun 2026,” jelas Febri.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today