Dilaporkan bahwa modul edukasi gizi program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang tengah diimplementasikan di lingkungan pendidikan, dinilai memiliki potensi yang bisa mengganggu kurikulum serta menambah beban kerja para guru, menurut Iman Zanatul Haeri, selaku Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G).
Iman mengungkapkan bahwa modul tersebut di dalamnya berisikan subjek pembelajaran yang tidak memiliki pijakan pada Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan atau BSKAP Nomor 46 Tahun 2025 mengenai Capaian Pembelajaran (CP) Jenjang PAUD, SD, SMP, SMA/SMK.

“Kami melihat modul ini tidak ada sangkut pautnya dengan kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah,” ujar Iman, hari Kamis malam, 27 November 2025, dikutip dari Tempo.co.
Dilansir dari Tempo.co, Iman menyampaikan bahwa modul ini adalah subjek pembelajaran yang “disisipkan” tanpa memiliki dasar pedagogis ataupun keterkaitan dengan tujuan proses belajar mengajar.
Iman menilai bahwa proses pendekatan seperti itu dapat memberikan permasalahan baru, karena sejak awal pemberlakuan program MBG bukanlah sebuah kebijakan di bidang pendidikan, melainkan program bantuan pangan.
“Tujuan edukasi gizinya jelas ditulis untuk kepentingan program, bukan untuk membangun kompetensi siswa. Ini sangat bermasalah dari sisi pedagogis,” kata Iman, dinukil dari Tempo.co.
P2G juga dikabarkan telah mencatat bahwa pelaksanaan program MBG yang telah berjalan sampai dengan saat ini telah meningkatkan beban administratif serta teknis, baik untuk guru meupun sekolah.
“Sekarang MBG masuk ke dalam kurikulum dan menambah beban itu. Kurikulum kita semakin sesak,” ujarnya, dilansir dari Tempo.co.
Mengutip Tempo.co, Iman mendesak pemerintah agar dapat melakukan pengkajian ulang modul tersebut, serta memastikan agar setiap materi pembelajaran yang diajarkan di lingkungan sekolah mempunyai dasar kurikulum yang jelas.
Iman menekankan bahwa kurikulum pendidikan bukanlah sebuah wadah yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mempromosikan program apa pun, dan ia juga berharap agar guru tidak terus dibebani oleh tugas yang di luar peran inti mereka.








