Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menyatakan bahwa Taiwan bersedia untuk memberikan bantuan kepada China terkait dengan menangani peningkatan angka Covid di Beijing.
China meninggalkan sikap ‘zero-Covid’ setelah hampir tiga tahun, mengakhiri penguncian cepat, pelacakan kontak, pengujian wajib, dan menghilangkan karantina yang sangat membatasi aktivitas masyarakat untuk pergi keluar dan masuk negara.
Dilansir dari edition.cnn.com, menurut sebuah studi baru, pemberhentian secara tiba-tiba ‘zero-Covid’ ini mengakibatkan hampir 1 juta kematian. China dihadapkan dengan gelombang infeksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyebar dari kota-kota besar ke wilayah pedesaan.
Pada hari Minggu, Tsai dalam pidato tahun barunya mengatakan bahwa “berdasarkan kebutuhan kemanusiaan, kami bersedia memberikan bantuan yang diperlukan (ke China) sesuai kebutuhan, sehingga lebih banyak orang dapat mengatasi pandemi dan memiliki tahun baru yang sehat dan damai.” Tetapi, Tsai tidak menjelaskan secara detail terakit dengan bantuan apa yang akan diberikan oleh Taipei.

Putar balik China dalam kebijakan Covid miliknya, membuat para warga dan sistem medis lengah, dengan kondisi apotek yang telah kehabisan persediaan obat-obatan flu dan demam serta rumah sakit berebut untuk mengatasi lonjakan infeksi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pekan lalu, China telah memberikan pengumuman bahwa pihaknya akan membatalkan persyaratan karantina untuk kedatangan internasional dan melanjutkan perjalanan keluar untuk warga negara China yang akan dimulai pada 8 Januari, hal ini telah memicu kekhawatiran dari beberapa pemerintah luar negeri dikarenakan kasus Covid di China yang meningkat.
Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan tengah bergerak untuk memberlakukan pembatasan, sementara Prancis dan Inggris telah menyatakan bahwa mereka siap menyambut para wisatawan dari China, yang telah menjadi pendorong utama pariwisata internasional sebelum pandemi.
Tsai dalam pidato tahun barunya juga meminta kepada Beijing untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, dengan berkata bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab dan harapan bersama dari seluruh wilayah.
“Perang bukanlah pilihan untuk menyelesaikan masalah. Hanya melalui dialog, kerja sama, dan tujuan bersama untuk mendorong pembangunan damai dan stabilitas regional, kita dapat membawa keamanan dan kebahagiaan bagi lebih banyak orang,” ujar Tsai.






