Dilaporkan Xi Jinping, yang merupakan Presiden China, tengah dalam perjalanan menuju Moskow yang disebutnya sebagai sebuah “perjalanan persabahatan”, “kerja sama,” dan “perdamaian”.
Perjalanan tersebut dilakukan Beijing setelah beberapa minggu meluncurkan kertas posisi yang menyerukan untuk diadakannya gencatan senjata dalam perang Rusia-Ukraina, dan beberapa hari setelah melakukan mediasi terkait pemulihan hubungan antara Arab Saudi dan Iran.
Dilansir dari Aljazeera.com, kunjungan tiga hari yang dimulai Xi pada hari Senin, diketahui akan memperlihatkan pembicaraan secara langsung dengan Vladimir Putin, selaku Presiden Rusia, yang dimana Xi menggambarkan sesosok Putin sebagai “sahabatnya”.
Pertemuan yang akan digelar di Moskow ini, menjadi pertemuan ke-40 antara kedua pemimpin tersebut. Kunjungan yang dilakukan oleh Xi, telah meningkatkan kembali harapan bagi beberapa wilayah terkait adanya terobosan baru dalam mengakhiri pertempuran di Ukraina.
Konflik yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun ini telah memakan puluhan ribu nyawa, memaksa jutaan masyarakat untuk meninggalkan rumah mereka, mengakibatkan penderitaan ekonomi yang kian melebar, dan inflasi yang semakin bertambah tinggi di seluruh dunia, serta persediaan biji-bijian, pupuk, dan energi yang sangat terbatas.

Harapan telah dimulai tidak hanya oleh mediasi yang dilakukan Beijing dalam detente Arab-Iran serta masukannya untuk gencatan senjata dan dialog antara Rusia dan Ukraina, namun, laporan media mengungkapkan bahwa Xi juga memiliki niat untuk menindaklanjuti pertemuan puncaknya bersama Putin dengan pertemuan virtual bersama dengan Volodymyr Zelensky, selaku Presiden Ukraina.
Apabila hal itu terjadi, maka perbincangan antara Xi dan Zelensky ini akan menjadi perbincangan pertama sejak tank-tank milik Rusia memasuki perbatasan Ukraina pada Februari 2022.
Terlepas dari meningkatnya diplomasi RRT, menurut sebagian besar pengamat, kunjungan kenegaraan yang dilakukan Xi ini lebih mengarah kepada pengukuhan kemitraan “tanpa batas”, yang telah ia sampaikan dengan Putin pada tahun lalu daripada memediasi perdamaian di Ukraina.
Hal tersebut dikarenakan, sebagai sebuah permulaan, tidak ada satu pun dari pihak-pihak yang tengah berkonflik yang sudah siap ataupun bersedia untuk mengakhiri pertempuran.





