Perjalanan dari seorang Francis Ngannou untuk menggapai ketenaran di dunia tarung telah membawanya mulai dari bekerja di tambang emas di kampung halamannya, Kamerun, menempuh Gurun Sahara untuk mencapai Eropa, hingga menjadi seorang juara kelas berat UFC dalam pertarungannya melawan beberapa petinju terbaik di generasinya.
Tetapi, ketika ia bertarung pada Sabtu malam nanti, Ngannou tidak hanya akan melawan Renan Ferreira untuk memperebutkan gelar juara kelas berat Professional Fighters League (PFL) Super Fights, ia juga akan menguji keinginannya agar dapat terus bertarung setelah kehilangan putranya di awal tahun ini, Kobe, yang baru berusia 15 bulan.

Dilansir dari aljazeera.com, petarung seni bela diri campuran (MMA), raksasa dengan suara lembut serta seorang petarung yang telah lama memegang rekor pukulan terkuat di Ultimate Fighting Championship (UFC), merasa tidak memiliki tenaga lagi setelah kematian mendadak putranya, Kobe, pada bulan April dikarenakan kelainan otak yang tidak terdiagnosis.
Pada saat Ngannou tengah berjuang untuk melewati proses kehilangannya, semua tampak tidak berarti dan ia mempertimbangkan untuk pensiun, tetapi, Ngannou memastikan untuk melakukan pertarungan setidaknya sekali lagi untuk putranya, Kobe, yang dimana ia beri nama sesuai dengan nama mendiang bintang NBA Los Angeles Lakers, Kobe Bryant.
“Ini adalah motivasi yang saya harap tidak saya miliki, namun sayangnya, itulah motivasi saya hari ini,” kata atlet berusia 38 tahun ini kepada Al Jazeera, berbicara melalui Zoom dari Riyadh, Arab Saudi, di mana ia akan menjalani debutnya di PFL dan bertarung dalam laga MMA pertamanya dalam hampir tiga tahun terakhir, dalam laman aljazeera.com.
Diketahui bahwa Ngannou melakukan pertarungan terakhirnya pada Januari 2022, pada saat ia mengalahkan Cyril Gane yang sangat dibanggakan, membuat beberapa orang terkejut dengan kombinasi dari teknik striking yang biasa ia lakukan dan penampilan gulat yang luar biasa, untuk mempertahankan gelar juara kelas berat UFC-nya serta membawa rekor MMA-nya menjadi 17 kali menang dan tiga kali kalah.

Ngannou kemudian berpisah dengan UFC setelah perselisihan terkait bayaran serta kondisi petarung dan menandatangani kesepakatan untuk bertarung dengan promotor PFL pada Mei 2023.
Dalam kesepakatan barunya ini, Ngannou memperoleh saham ekuitas di PFL dan peran kepemimpinan di dalam perusahaan tersebut, yang dimana hal itu memberikannya fleksibilitas agar dapat bertarung dalam pertandingan tinju juga.
Ngannou membuat debut dalam dunia tinju yang luar biasa pada bulan Desember 2023, dengan menjatuhkan Tyson Fury, seorang juara kelas berat WBC yang ketika itu tak terkalahkan.
Ngannou kalah melalui keputusan terpisah (split decision), walaupun banyak dari para penggemar maupun komentator pertarungan yang percaya bahwa ia telah mengalahkan Fury.
Di bulan Maret, Ngannou mengalami pembongkaran brutal di atas ring tinju yang dilakukan oleh Anthony Joshua dan dipukul KO untuk pertama kali dalam karirnya.
Tetapi, pertarungan tersebut sangat menguntungkan dan Ngannou mulai berharap untuk kembali ke MMA serta melakukan debutnya di PFL, hingga kekalahan dari Kobe menggulingkan kehidupannya.
“Anda hanya perlu bangun setiap hari dan menghadapinya serta menghadapi apa pun itu; emosi Anda, juga tanggung jawab Anda, karena apa yang Anda rasakan tidak menghilangkan tanggung jawab Anda sebagai seorang pria,” ujar Ngannou, yang juga memiliki seorang anak perempuan, dalam laman aljazeera.com.
Ngannou juga menambahkan bahwa menurutnya tidak ada cara yang lebih baik jadi ia harus tetap berjalan dan menemukan cara bagaimana untuk mengatasinya di sepanjang jalan.






