PHK di Seluruh Negeri, Para Bankir Pelat Merah Khawatir Terhadap Penurunan Daya Beli Dalam Jangka Panjang

Para bankir "ngeri" dengan banyaknya industri tekstil yang bangkrut, mulai dari usaha kecil hingga perusahaan sekelas PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) dan Sritex. (Sumber Foto : Dok. Bank Mandiri)
0 0
Read Time:2 Minute, 15 Second

Para bankir “ngeri” dengan banyaknya industri tekstil yang bangkrut, mulai dari usaha kecil hingga perusahaan sekelas PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) dan Sritex.

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hampir pasti akan meningkat dan berdampak pada semakin menurunnya daya beli.

Tak sedang bercanda, Dharmawan Junaidi, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero/BMRI) Tbk, prihatin dengan meningkatnya PHK, terutama di Industri tekstil yang tergolong padat karya.

“Kami khawatir dengan resiko penurunan daya beli yang terus meningkat. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya PHK massal di berbagai perusahaan,”ujar Darmawan di Jakarta, seperti dikutip Kamis (14/11/2024).

Darmawan mengatakan, ambruknya sejumlah industri berdampak pada angka purchasing managers index (PMI) industri manufakur Indonesia selama empat bulan terakhir, Indeks Manajer Pembelian Manufakur Indonesia terus mengalami penurunan. Tentu saja keadaan ini berdampak besar terhadap perekonomian nasional.

Benar juga, PMI manufakur Indonesia mencatat penurunan yang tidak biasa dalam empat bulan terakhir.

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hampir pasti akan meningkat dan berdampak pada semakin menurunnya daya beli. (Sumber Foto : ANTARA FOTO/Aprilio Akbar)

Pada Juli 2024 sebesar 49.3 namun pada bulan berikutnya turun menjadi 48.9. Nilai tersebut naik ke level 49,2 pada September 2024 dan tetap konsisten di bulan berikutnya.

Untuk “menyembuhkan”dan memulihkan daya beli masyarakat kelas bawah, perlu dilakukan penyelamatan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Faktor dalam negeri yang perlu segera diperhatikan adalah menurunnya daya beli. Hal ini dapat mengkhawatirkan kita semua, terutama daya beli masyarakat kelas bawah.

Pertumbuhan (kelas bawah) ini harus terus kita pertahankan, dengan mendukung pengembangan bisnis UMKM,’ janji Darmawan.

Melemahnya daya beli yang dibuktikan dengan menurunnya penjualan usaha mikro, kecil, dan menengah alias UMKM diungkapkan oleh Bapak Supari, Kepala Divisi Bisnis Mikro BRI.

Supari mengaku berkeliling Indonesia mulai dari Makassar, Sulawesi Selatan hingga Padang, Sumatera Barat.

Oleh karena itu, terdapat sedikit perbedaan situasi di masing-masing daerah. Para pelaku UMKM mengeluhkan penjualannya anjlok.

“Di semua pasar yang saya liput, penjualannya sekarang turun 40 sampai 60 persen.

Mau tidak mau kita harus melihat keadaannya apa adanya,” kata Supari di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta pada Rabu (13/11/2024).

Ia menilai menurunnya daya beli masyarakat menjadi penyebab utama merosotnya penjualan usaha kecil dan menengah.

Menurut survei, daya beli telah menurun sejak tahun lalu. Menilai penurunan daya beli terjadi pasca pemerintah menghentikan sementara bantuan sosial (bansos) akibat pandemi COVID-19.

Ia meyakini daya beli masyarakat cenderung meningkat pada tahun 2020 hingga 2022 seiring dengan dukungan pemerintah yang menyalurkan bantuan sosial pandemi.

“Mungkin kita perlu menambah bansos sebesar Rp 100 triliun. Menurut saya, apa yang disampaikan Menteri Muhaimin (Menteri Koordinator PMK) itu penting, dan agar daya beli masyarakat tumbuh dan meningkat, sebesar Rp 100 triliun. Saya yakin dampaknya akan terasa kembali terhadap perekonomian nasional,” ujarnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today