Bencana Banjir Jabodetabek Capai Rp 1,69 Triliun, Menurut BNPB

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir yang melanda Jabodetabek beberapa waktu lalu telah menyebabkan kerugian sosial ekonomi lebih dari Rp1,69 triliun. (Sumber Foto : Kompas.com)
0 0
Read Time:2 Minute, 21 Second

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir yang melanda Jabodetabek beberapa waktu lalu telah menyebabkan kerugian sosial ekonomi lebih dari Rp1,69 triliun.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, “Total kerusakan dan kerugian akibat bencana ini mencapai Rp 1.699.670.076.814. Angka ini mencerminkan dampak serius terhadap infrastruktur, perekonomian, dan kehidupan masyarakat di daerah terdampak,” seperti yang dilaporkan Antara pada Kamis (27/3/2025).

Menurut BNPB, Kabupaten Bekasi mengalami kerusakan terbesar sebesar Rp 659,1 miliar, bersama dengan kerugian tambahan sebesar Rp 20,9 miliar, dengan total kerusakan sebesar Rp 680 miliar.

Kota Bekasi, di sisi lain, mengalami kerugian terbesar tanpa laporan kerusakan sebesar Rp 878,6 miliar.

Provinsi Jakarta mengalami kerugian total 1,92 miliar rupiah, Kabupaten Bogor mengalami 96,7 miliar rupiah, dan Kota Depok mengalami 28,8 miliar rupiah.

Dia menyatakan bahwa, tanpa laporan kerusakan fisik, Kabupaten Tangerang mencatat kerugian sebesar Rp 5,06 miliar, dan hanya dua kota-kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Yang tidak melaporkan kerusakan atau kerugian yang signifikan.

Dia menyatakan bahwa masyarakat yang terkena dampak dipengaruhi secara signifikan oleh kerusakan rumah serta kerugian yang disebabkan oleh kehilangan barang dan kebutuhan dasar. Sektor perumahan adalah yang paling terkena dampak, dengan kerusakan dan kerugian mencapai Rp 1.344.732.352.500.

Kabupaten Bekasi mengalami kerusakan terbesar sebesar Rp 659,1 miliar, bersama dengan kerugian tambahan sebesar Rp 20,9 miliar, dengan total kerusakan sebesar Rp 680 miliar. (Sumber Foto : tirto.id)

Selain itu, infrastruktur mengalami kerusakan senilai Rp 45,880 miliar, dengan kerugian tambahan sebesar Rp 110.117.582.000 karena gangguan pada transportasi umum dan fasilitas umum, sehingga total kerugian sektor ini mencapai Rp 155.997.582.000.

Selain itu, ekonomi juga mengalami dampak yang signifikan; kerugian mencapai Rp 130,275 miliar dan kehilangan senilai Rp 14.188.511.000.

“Hal ini mencerminkan bagaimana bencana banjir tidak hanya merusak infrastruktur fisik tetapi juga menghambat roda perekonomian masyarakat,” kata Abdul.

Sebaliknya, sektor sosial mengalami kerugian sebesar 36.786.198.314, yang mencakup penurunan layanan kesehatan, pendidikan, dan peningkatan kebutuhan bantuan sosial bagi masyarakat yang terkena dampak. Kerugian lintas sektor juga mencapai 352.452.000.

“Istilah ini mencakup berbagai aspek, seperti dampak terhadap tata kelola pemerintahan, lingkungan, dan lainnya dalam penanganan bencana. Dengan total nilai kerusakan dan kerugian yang hampir mencapai Rp 1,7 triliun, banjir Jabodetabek 2025 menjadi salah satu bencana dengan dampak ekonomi dan sosial yang besar,” katanya.

Hal itu menegaskan lagi bahwa semua pihak, terutama masyarakat, harus mempertimbangkan kelestarian lingkungan dalam program pembangunan (RT/RW), karena memaksimalkan pencegahan atau menjaga akan lebih baik daripada menanggulangi dampak bencana.

Dalam hal ini, BNPB turut berkontribusi besar dengan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengontrol jumlah hujan yang jatuh di daerah yang terkena dampak. Selain itu, sebagai bagian dari upaya mitigasi, BNPB mengajarkan masyarakat tentang kebencanaan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today