Memasuki 27 tahun pasca-Reformasi 1998, sekelompok tokoh yang tergabung dalam Aktivis 88 kembali menghidupkan semangat perubahan lewat sebuah diskusi publik yang berlangsung pada Jumat, 30 Mei 2025. Bertempat di Rumah Makan Handayani, Matraman, Jakarta Timur, kegiatan ini mengangkat tema besar: “Refleksi 27 Tahun Reformasi: Pemerintahan yang Bebas dan Bersih KKN, Mimpi atau Kenyataan?”
Acara ini menghadirkan Wakil Menteri Tenaga Kerja, Immanuel Ebenezer, yang akrab disapa Noel, sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, Noel menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan tekad kuat untuk memerangi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ia menilai, komitmen itu tidak hanya terlihat dari pidato-pidato resmi, tetapi juga melalui langkah konkret di lapangan.

Namun demikian, Noel tidak menutup mata terhadap tantangan besar yang masih membelit negeri ini. Salah satunya adalah persoalan pengangguran yang masih tinggi, dengan jumlah pencari kerja mencapai lebih dari tujuh juta jiwa. Ia menyinggung soal job fair di Bekasi yang belum lama ini sempat viral karena jumlah pelamar yang membeludak hingga menyebabkan ketidaknyamanan. Noel menyayangkan kurangnya koordinasi panitia dan mendorong adanya evaluasi menyeluruh agar kegiatan serupa bisa lebih tertata di masa depan.
Selain itu, isu diskriminasi dalam proses rekrutmen kerja juga menjadi sorotan. Syarat-syarat seperti batas usia, status pernikahan, hingga penampilan fisik dinilai sudah tidak relevan dan dapat membatasi hak-hak pencari kerja. Noel menegaskan bahwa kementeriannya sedang meninjau ulang berbagai ketentuan tersebut, kecuali untuk sektor-sektor tertentu yang memang membutuhkan kualifikasi khusus seperti dunia penerbangan atau industri hiburan.

Diskusi ini juga menghadirkan berbagai aktivis dan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi, seperti Perbanas, UPN Veteran, UNAS, Universitas Assafi’iyah, dan UNIJA. Dengan dipandu oleh Bandot Malera dan Aznil Tan sebagai moderator dan pemantik, forum ini menjadi wadah refleksi sekaligus ajakan untuk terus menjaga idealisme reformasi.
Mereka sepakat bahwa meski banyak cita-cita belum tercapai, semangat reformasi harus tetap dijaga. Harapan akan hadirnya pemerintahan yang transparan, adil, dan bersih dari KKN masih hidup dan terus diperjuangkan bersama.








