Diketahui bahwa seiring berkembangnya inovasi dalam teknologi akal imitasi atau artificial intelligence (AI), terdapat banyak perusahaan startup di dunia yang mulai menggantikan karyawannya dengan teknologi AI.
Hal tersebut dilakukan oleh pihak perusahaan karena mereka menilai bahwa teknologi AI mampu menyelesaikan berbagai tugas yang sulit dengan cara yang terstruktur serta lebih efisien.

Dari sekian banyaknya perusahaan yang mulai mengurangi sejumlah karyawannya dan menggantikannya dengan AI, ClickUp menjadi salah satu yang paling baru.
Mengutip Tempo.co, perusahaan perangkat lunak yang berbasis di San Diego, California, Amerika Serikat (AS) itu, sebelumnya mengumumkan bahwa pihaknya telah melakukan pengurangan sebanyak 22 persen dari total karyawannya dan diganti dengan 3.000 agen AI baru, pada bulan Mei 2026 lalu.
Zeb Evans, selaku Chief Executive Officer atau CEO ClickUp, mengungkapkan bahwa keputusan yang dilakukan oleh pihaknya ini bukan sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam menghemat biaya pengeluaran, namun untuk memanfaatkan teknologi AI secara radikal agar dapat membawa perusahaan maju menuju ke jenjang yang lebih tinggi.
“Kami memperkenalkan rentang gaji jutaan dolar. Jika Anda menciptakan dampak luar biasa menggunakan AI, Anda akan dibayar di luar rentang gaji tradisional,” ucap Evans dalam laporan Techcrunch, hari Senin, 25 Mei 2026, dilansir dari Tempo.co.
Walaupun teknologi AI telah mengambilalih berbagai pekerjaan di ClickUp, Evans menyampaikan bahwa perusahaan masih membutuhkan sejumlah karyawan untuk melakukan pengawasan.
“Orang-orang yang mengotomatiskan pekerjaan mereka dengan AI akan selalu memiliki pekerjaan,” kata Evans, dalam laman Tempo.co.






