Gus Elham Menerima Banyak Kritik dan Meminta Maaf Atas Video Cium Anak

Gus Elham Yahya Al-Maliki, memberi tahu publik tentang rekaman video di mana dia mencium anak-anak di atas panggung selama pengajian. (Sumber Foto : Tangkapan Layar)
0 0
Read Time:4 Minute, 9 Second

Akhirnya, pendakwah Gus Elham Yahya Al-Maliki, yang berasal dari Kediri, memberi tahu publik tentang rekaman video di mana dia mencium anak-anak di atas panggung selama pengajian. Ia juga meminta maaf karena membuat kekacauan.

Gus Elham menegaskan komitmennya untuk memperbaiki dirinya dalam pernyataan yang diposting oleh detikJatim di akun Instagram @fuadbakh, menyebut insiden tersebut sebagai kekhilafan pribadi.

Gus Elham menyatakan penyesalan atas kekacauan yang terjadi. (Sumber Foto : Beritasatu.com)

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kediri, 11 November 2025 jam 14.00 WIB. Dengan penuh kerendahan hati, saya Muhammad Elham Yahya Al-Maliki saya pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya video yang menimbulkan kegaduhan. Saya mengakui bahwa hal tersebut merupakan kekhilafan dan kesalahan saya pribadi,” ujar Gus Elham dalam video permintaan maaf yang dilansir dari detikJatim, Rabu (12/11/2025).

Ia berjanji untuk menggunakan peristiwa tersebut sebagai pelajaran untuk mencegah hal seperti itu terjadi di masa depan.

“Saya berkomitmen untuk memperbaiki dan menjadikan peristiwa ini menjadi pelajaran berharga agar tidak mengulangi hal serupa di masa mendatang dan saya juga bertekad untuk menyampaikan dakwah dengan cara yang lebih bijak sesuai dengan norma agama, etika dan budaya bangsa, serta menjunjung akhlakul karimah,” lanjutnya.

“Perlu saya sampaikan bahwa video yang beredar merupakan video lama dan telah kami hapus dari seluruh media resmi kami,” kata Gus Elham.

Gus Elham menyatakan bahwa anak-anak dalam video tersebut berada di bawah pengawasan orang tua mereka dan sering mengunjungi sekolahnya.

“Dan perlu saya sampaikan bahwa anak dalam video viral tersebut adalah mereka yang dalam pengawasan orang tuanya yang mengikuti rutinan pengajian saya,” ujar dia.

Tetap saja, Gus Elham menyatakan penyesalan atas kekacauan yang terjadi.

“Namun demikian, saya tetap memohon maaf atas hal tersebut. Demikian permohonan maaf dan klarifikasi ini saya sampaikan. Semoga Allah Taala mengampuni kekhilafan kita semua dan senantiasa membimbing langkah kita di jalan kebaikan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” tutupnya.

Banjir Kritik

Banyak orang mengecam ulah Gus Elham yang mencium anak di panggung saat berdakwah ini. Bukan hanya masyarakat, tetapi juga Menag Nasaruddin Umar, yang terang-terangan menyatakan bahwa tindakan itu bertentangan dengan moralitas dan harus menjadi musuh bersama.

“Bukan hanya saya sebagai Menteri Agama, saya person juga ya. Semua tindakan-tindakan yang bertentangan moralitas itu adalah harus menjadi musuh bersama,” ujar Nasaruddin Umar dilansir dari detikNews.

Setiap orang harus menghindari tindakan yang tidak dibenarkan, kata Nasaruddin. Dia berharap masyarakat tidak menganggap perbuatan Gus Elham sama dengan yang terjadi di institusi keagamaan atau lembaga lain.

“Jadi saya kira berpikir secara matang adalah segala sesuatu yang kasus itu diselesaikan secara kasuistik, ya kan,” kata dia.

Dia menyatakan bahwa Kementerian Agama berusaha membuat lingkungan aman dan nyaman bagi semua orang. Kemenag juga telah membentuk kelompok pembinaan pondok pesantren untuk menghindari penyimpangan di sekolah agama.

“Pondok Pesantren ke depan itu harus menjadi contoh untuk sebuah masyarakat yang ideal, ya kan,” kata dia.

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii mengkritik perilaku Gus Elham yang mencium anak-anak perempuan. Apalagi jika itu dilakukan oleh seseorang yang dianggap sebagai pemuka agama, katanya.

“Kita sepakat dengan publik, bahwa itu tidak pantas!” kata Romo Syafii.

Romo Syafii menjelaskan bahwa melalui surat keputusan yang dikeluarkan oleh Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag telah menetapkan standar tegas untuk lingkungan yang ramah anak di madrasah dan pesantren. Dia berpendapat bahwa hak anak harus dilindungi.

“Ada surat keputusan dari Dirjen Pendis tentang madrasah dan pesantren ramah anak yang intinya agar anak-anak madrasah, anak-anak pesantren mendapatkan pemenuhan haknya sebagai peserta didik dan jauh dari tindak kekerasan yang tidak seharusnya mereka terima,” ujarnya.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga mengecamnya. Menurut Alissa Wahid, ketua PBNU, tindakan Gus Elham merendahkan martabat manusia, terutama anak-anak, dan melanggar prinsip dakwah bil hikmah, ciri dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Itu menodai nilai-nilai dakwah sendiri yang seharusnya memberikan teladan melalui sikap dan lakunya kepada umat,” kata Alissa seperti dilansir dari detikNews.

Karena berpegang pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, Nahdlatul Ulama ditugaskan untuk membangun kemaslahatan umat, kata Alissa.

Oleh karena itu, Nahdlatul Ulama menentang keras setiap praktik yang mengganggu Maqashid Syariah (tujuan penerapan syariat), khususnya perlindungan kehormatan manusia (hifdz al-‘irdh), tanpa mempertimbangkan usia, status sosial, atau kedudukan sosial seseorang.

“Prinsip maqashid syariah inilah yang harus dipegang dan menjadi pertimbangan utama para pendakwah,” ujarnya.

Menurut Alissa, PBNU juga menekankan penghormatan yang tinggi kepada para kiai-nyai berdasarkan keulamaan, kearifan sebagai pengasuh, dan peranannya sebagai pengayom jamaah. Setiap tokoh agama harus mempertahankan penghormatan ini dan berperilaku sebagai uswatun hasanah bagi umat.

“Sebab, sejatinya kiai-nyai, pendakwah secara umum juga merupakan guru yang sudah sepantasnya digugu dan ditiru,” katanya.

PBNU mengajak semua anggota jamaah dan jam’iyah Nahdlatul Ulama untuk membuat ruang yang aman dan bermartabat bagi semua orang, terutama bagi yang lemah seperti anak-anak, santri, dan perempuan.

PBNU telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan di Pesantren (SAKA) sebagai bagian dari tanggung jawab kelembagaan mereka.

Tim ini dibentuk secara aktif untuk menangani kekerasan, pelecehan, dan penyimpangan lainnya di pesantren Katolik.

Alissa kembali menegaskan bahwa dakwah Islam tidak boleh melibatkan kekerasan, pelecehan, atau penyalahgunaan kekuasaan.

“Dakwah harus menumbuhkan kemuliaan, bukan menistakan martabat manusia,” katanya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today