Dikabarkan bahwa menurut hasil analisis yang dikemukakan oleh New York Times pada hari Rabu, 11 Maret 2026, dikutip dari Anadolu dalam laman Tempo.co, setidaknya terdapat 17 situs militer, diplomatik serta pertahanan udara milik Amerika Serikat atau AS yang terletak di kawasan Timur Tengah telah mengalami berbagai macam kerusakan.
Berbagai macam kerusakan yang telah dialami sejumlah situs AS tersebut diakibatkan oleh serangan drone hingga rudal milik Iran sejak berlangsungnya peristiwa serangan gabungan Israel-AS.

Dilaporkan bahwa dari total 17 situs AS yang telah mengalami kerusakan itu, 11 di antaranya adalah pangkalan atau instalasi militer.
Dari sejumlah kerusakan yang telah dialami oleh berbagai situs AS, kerugian paling mahal terjadi di sistem pertahanan udara, tepatnya pada radar peringatan dini di dekat Umm Dahal, Qatar, yang nilainya mencapai hingga US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 18,6 triliun.
Iran telah berhasil menyerang komponen sistem Pertahanan Area Ketinggian Tinggi Terminal, yang dikenal sebagai THAAD, menurut analisis tersebut.
Selain itu, sejumlah serangan yang telah diluncurkan oleh Iran juga telah menghantam berbagai fasilitas diplomatik AS hingga berakhir pada penutupan sementara konsulat di Dubai serta kedutaan besar di Kuwait City dan Riyadh.
Sejumlah pejabat AS mengungkapkan kepada media bahwa serangan ini memperlihatkan kesiapan Iran dalam berperang dibanding dengan antisipasi sebagian besar orang di dalam pemerintahan Trump.
Dinukil dari Tempo.co, eskalasi konflik di Timur Tengah terjadi pada saat setelah diluncurkannya serangan gabungan Israel-AS ke wilayah Iran pada tanggal 28 Februari 2026 lalu.
Akibat serangan gabungan tersebut, terdapat lebih dari 1.300 korban tewas hingga saat ini, meliputi di antaranya adalah Ayatollah Ali Khamenei, yang merupakan Pemimpin Tertinggi Iran, beserta dengan anggota keluarganya.






