Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan, mencatatkan pelemahan selama tiga sesi berturut-turut sejak awal pekan. Pada perdagangan Senin (30 Maret 2026), IHSG turun 90 poin atau sekitar 1,2%, menyentuh level 7.010.
Penurunan ini terjadi di tengah kondisi pasar global yang terus diliputi ketidakpastian. Salah satu faktor utama adalah pelemahan futures saham AS akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran risiko inflasi dan kemungkinan resesi global. Ketidakpastian tersebut berimbas pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Inflasi Meningkat dan Data Trade Terbaru

Para pelaku pasar juga mencermati data ekonomi domestik terbaru yang menunjukkan inflasi Indonesia pada Februari naik menjadi 4,76%, tingkat tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir dan berada di atas target Bank Indonesia. Hal ini menambah tekanan pada pasar modal karena meningkatnya kekhawatiran terhadap daya beli dan konsumsi domestik menjelang momentum Ramadan dan Eid al-Fitr.
Selain itu, data perdagangan Februari yang dirilis pekan ini menunjukkan lonjakan impor yang signifikan. Lonjakan ini dipandang mencerminkan kebutuhan konsumsi yang meningkat, tetapi juga memberikan tekanan pada neraca perdagangan Indonesia, yang menjadi salah satu sorotan utama investor.
Sektor-sektor yang Tertekan

Penurunan indeks terjadi secara broad-based, dengan sektor finansial, cyclicals, dan properti menjadi salah satu kontributor utama pelemahan. Saham perusahaan seperti MD Entertainment, Buana Lintas Lautan, dan Chandra Asri Pacific menjadi beberapa saham yang mencatat penurunan signifikan.
Bank Indonesia telah mengambil beberapa langkah untuk meredam gejolak pasar, termasuk kebijakan untuk membatasi spekulasi atas rupiah yang efektif diberlakukan per 1 April 2026. Namun, pasar masih menunjukkan sentimen berhati-hati menjelang data ekonomi selanjutnya yang akan dirilis dalam pekan ini.
Menavigasi Ketidakpastian

Para analis menilai bahwa investor perlu mencermati kebijakan moneter global, terutama langkah Federal Reserve AS, yang saat ini menunjukkan kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga. Dalam konteks pasar finansial global yang saling terkait, keputusan kebijakan di luar negeri bisa memiliki dampak serius terhadap pasar domestik.
Di sisi lain, beberapa analis melihat bahwa koreksi pasar ini juga dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan rebalancing portofolio. Mereka menyarankan investor untuk fokus pada perusahaan dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang jelas.









