Video Games Dapat Memberikan Manfaat Bagi Perkembangan Otak

Video game memungkinkan seseorang dalam meningkatkan perkembangan otak. (Photo: unsplash.com/Frederick Tendong)
0 0
Read Time:2 Minute, 0 Second

Video Game sering kali di salahartikan oleh para orang tua dan media, namun hal ini dapat terbantahkan karena adanya sebuah studi baru-baru ini diterbitkan. Studi tersebut menunjukkan bahwa 2.217 anak berusia sembilan dan sepuluh tahun yang bermain video game setidaknya 21 jam per-minggu, memiliki performa lebih baik dari pada anak-anak yang tidak bermain video game sama sekali pada tes kinerja yang kognitif dimana tes ini melibatkan penghambatan respons dan memori kerja.

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Department of Psychiatry di University of Vermont, diterbitkan kedalam jurnal JAMA Network Open. Video Game telah berkembang pesat dari yang awalnya sulit untuk ditemukan menjadi ada dimana-mana dalam lingkungan masyarakat modern. Mulai dari anak-anak berusia 2 hingga 17 tahun memainkannya, baik itu video game di komputer, konsol, atau smartphone. Hal tersebut membuat para orang tua bertanya, “Berapa banyak jumlah yang tepat?”

Anak-anak yang ssering bermain Video Game dapat merubah fungsi dan perilaku kognitif. (Photo: unsplash.com/Kelly Sikkema)

American Academy of Pediatrics (AAP) memberikan rekomendasi kepada orang tua agar anak-anak diatas dua tahun bermain video game tidak lebih dari satu jam per hari dihari sekolah sedangkan untuk hari non-sekolah tidak lebih dari dua jam per hari. Para ilmuwan telah melakukan eksplorasi terkait dengan apakah bermain game dapat merubah fungsi dan perilaku kognitif pada anak-anak.

Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa game berat dikaitkan dengan sedikit peningkatan tingkat agresi, depresi, dan kekerasan. Tetapi, di saat yang sama, gamer sering bermain video game cenderung lebih mengungguli rekan-rekan mereka dalam kemampuan kognitif. Dalam penelitian terbaru, sekitar seribu anak-anak mengikuti penelitian Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) yang dimana anak-anak tersebut dibagi kedalam dua grup: anak-anak yang bermain game lebih dari 21 jam dan anak-anak yang tidak bermain game sama sekali.

Para partisipan ditantang dengan Stop Signal Task (SST) yang dimana mereka diberitahukan untuk melakukan tugas simpel dan cepat pada sebuah komputer sampai sinyal berhenti diberikan. Mereka juga diberikan tugas N-Back sebuah tes memeori kerja untuk mengingat sesuatu yang sebelumnya diberikan kepada mereka.

Dilansir dari realclearscience.com, didapatkan hasil bahwa berdasarkan kedua tes tersebut, anak-anak yang bermain game lebih unggul daripada anak-anak yang tidak bermain game sama sekali sekitar 5% sampai 10%. Otak mereka juga menunjukkan adanya aktivitas yang tinggi dibagian yang terkait dengan perhatian dan memori serta di daerah otak bagian depan yang berhubungan dengan tugas-tugas yang lebih menuntut kognitif.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today