Dunia tengah diterpa dengan situasi dan kondisi inflasi besar-besaran akibat dampak peperangan antara Ukraina dan Rusia. Peperangan yang belum kian selesai, turut menarik perhatian dari berbagai negara yang mengikuti KTT G20 di Bali, Indonesia. Forum G20 merupakan suatu bentuk kerja sama multirateral yang terdiri dari 19 negara utama termasuk beberapa negara di Eropa.
Melansir pada laman Tempo.co, bahwasanya pertumbuhan ekonomi global di tahun 2022 mencapai 4,4 persen dan di tahun 2023 mendatang akan mencapai 3,8 persen. Angka tersebut merupakan predisksi sementara yang sewaktu-waktu akan berubah kembali.

Melihat angka pertumbuhan ekonomi tersebut, konflik berkepanjangan tersebut turut harus memiliki atensi lebih yang akan memberikan dampak terhadap global supply chain. Kondisi supply chain tersendiri turut mengalami hambatan yang cukup signifikan akibat terpaan pandemi Covid-19 yang mengharuskan harga komoditas naik.
Di lansir dari laman Reuters.com, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo turut mengharapkan terkait adanya forum G20 ini sebagai salah satu landasan yang bisa membantu menaikan pertumbuhan ekonomi secara global. Pernyataan tersebut turut disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo kepada Presiden AS Joe Biden pada hari Senin dalam agenda pertemuan G20.
Di samping itu, perang antara Rusia dan Ukraina turut sangat menghambat laju lalu lintas pasar finansial. Dalam hal ini, Amerika turut menanggapi dan mengambil tindakan terkait peperangan antara Rusia dan Ukraina dengan memberikan sanksi keuangan kepada perusahaan teknologi di Rusia. Sanksi ini turut sangat berdampak pada skenario yang dicetuskan oleh The Fed dalam menaikkan tingkatan suku bunga.

Hal tersebut juga berkaitan dengan adanya kontribusi peningkatan harga energi dan pangan yang menimbulkan krisis. Akibatnya, pemerintah dari berbagai negara turut mengurangi dukungan dan ikut campur urusan perang antara Rusia dan Ukraina. Krisis yang dialami ini mengharuskan untuk restrukturisasi laju perdagangan internasional.
Perekonomian Asia Tenggara turut sangat bergantung pada kegiatan impor. Hanya terdapat beberapa negara yang dapat melakukan kegiatan eksport dan menjadi eksportir energi bersih ke seluruh dunia. Negara di Asia Tenggara turut harus melaksanakan dan melakukan keputusan dalam memasok energi dan bertahan dalam lonjakan harga energi di atas perang Rusia dan Ukraina.






