Menelusuri Dimensi Spiritual Soeharto pada Peringatan 105 Tahun Kelahirannya

Sebuah buku baru mengajak masyarakat melihat sisi lain Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar H.M. Soeharto. (Source: Istimewa via Lakumedia.id)
0 0
Read Time:3 Minute, 20 Second

Di tengah beragam pandangan mengenai warisan pemerintahan Orde Baru, sebuah buku baru mengajak masyarakat melihat sisi lain Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar H.M. Soeharto. Buku tersebut tidak berfokus pada dinamika politik atau strategi kekuasaan, melainkan pada aspek spiritualitas dan nilai-nilai kejawen yang diyakini turut memengaruhi perjalanan hidup serta kepemimpinannya.

Buku berjudul Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen: Analisis SWOT Negara ala Jawa karya wartawan senior sekaligus penulis sejarah Bambang Wiwoho resmi diluncurkan dalam acara Peluncuran Buku dan Sarasehan Ketahanan Nasional. Kegiatan tersebut berlangsung di Lantai 5 Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Gedung IAS TH, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, pada Senin (8/6/2026).

Peluncuran buku ini bertepatan dengan peringatan 105 tahun kelahiran Soeharto. Momen tersebut menjadi simbol pengingat atas peran tokoh yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade dan memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah bangsa.

Acara terselenggara melalui kerja sama Yayasan Kajian Citra Bangsa, Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (Universitas Trilogi), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, serta Penerbit Buku Kompas. Sejumlah akademisi, peneliti, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan pemerhati sejarah turut menghadiri kegiatan tersebut.

Rangkaian acara diawali dengan pemutaran video yang menampilkan perjalanan hidup Soeharto. Selanjutnya, peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Universitas Indonesia, dilanjutkan dengan pembukaan serta doa bersama.

Dalam sesi sambutan, Ketua Panitia Prof. Dr. Arissetyanto Nugroho membuka acara, yang kemudian dilanjutkan oleh Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, Prof. Yon Machmudi. Dari pihak penerbit, sambutan disampaikan oleh Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, Tri Agung Kristanto.

Sebagai penulis, Bambang Wiwoho menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari upaya untuk mengkaji sisi Soeharto yang selama ini relatif jarang dibahas. Menurutnya, pembahasan mengenai Soeharto umumnya lebih banyak menyoroti aspek politik, ekonomi, militer, maupun kekuasaan. Sementara itu, dimensi spiritual dan pandangan hidup Jawa yang diyakini turut memengaruhi berbagai keputusan penting selama masa kepemimpinannya belum banyak mendapat perhatian.

Dalam tradisi Jawa, konsep “laku” dipahami sebagai proses pembinaan batin yang mencakup disiplin diri, pengendalian hawa nafsu, dan upaya menjaga keselarasan hubungan manusia dengan alam serta Tuhan. Nilai-nilai tersebut menjadi salah satu fokus kajian dalam buku ini.

Nuansa historis semakin terasa dengan kehadiran perwakilan keluarga Soeharto yang memberikan sambutan dan menerima buku secara simbolis. Menteri Kebudayaan RI, Prof. Dr. Fadli Zon, juga hadir dan menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya pelestarian memori kolektif bangsa melalui kajian sejarah yang terbuka dan berbasis sumber.

Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan buku dari penerbit kepada penulis, kemudian kepada perwakilan keluarga Soeharto, Menteri Kebudayaan, dan sejumlah tamu undangan. Prosesi tersebut diiringi pertunjukan tari obor yang melambangkan pewarisan nilai, pengetahuan, serta semangat kebangsaan kepada generasi penerus.

Setelah peluncuran buku, kegiatan dilanjutkan dengan Sarasehan Ketahanan Nasional yang membahas relevansi nilai kepemimpinan, budaya, dan ketahanan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Diskusi dipandu oleh Dr. Puspitasari, S.Sos., M.Si., dengan menghadirkan Bambang Wiwoho sebagai narasumber utama. Turut menjadi pembicara Dr. Palupi Lindiasari Samputra, Ketua Departemen Kajian Strategik Ketahanan dan Keamanan sekaligus Pelaksana Tugas Ketua Program Studi Magister Kajian Ketahanan Nasional, serta Dr. Lita Sari Barus dari Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI.

Dalam forum tersebut, buku Laku Spiritual Pak Harto dipandang tidak hanya sebagai catatan biografis, tetapi juga sebagai bahan refleksi mengenai peran nilai budaya lokal dalam memperkuat ketahanan nasional. Konsep analisis SWOT negara dari perspektif Jawa yang diangkat dalam buku ini menawarkan sudut pandang bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi dan politik, melainkan juga pada karakter, budaya, dan nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Lebih dari satu abad setelah kelahirannya, nama Soeharto masih menjadi bagian dari diskursus publik. Sebagian kalangan menilai dirinya sebagai tokoh penting dalam pembangunan nasional, sementara sebagian lainnya menempatkannya dalam berbagai perdebatan sejarah. Terlepas dari beragam pandangan tersebut, Soeharto tetap menjadi salah satu figur yang memiliki posisi penting dalam perjalanan Indonesia modern.

Melalui buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen, Bambang Wiwoho mengajak pembaca meninjau dimensi yang lebih personal dari sosok Soeharto, yakni ruang spiritual tempat nilai, keyakinan, dan budaya berinteraksi dengan sejarah. Perspektif tersebut diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai perjalanan hidup Soeharto sekaligus dinamika perjalanan bangsa Indonesia.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today