Tanpa Presiden Rusia, Kemana Arah Ekonomi Eropa Dan Dunia?

Puncak pertemuan KTT G20 pada 15 dan 16 November di Bali. (Photo: djkn.kemenkeu.go.id)
0 0
Read Time:2 Minute, 4 Second

Presiden Rusia, Vladimir Putin, tidak akan menghadiri secara langsung pertemuan dari para pemimpin negara-negara ‘Group of 20’ (G20), namun, para pejabat dari Rusia mengatakan jika Presiden Putin kemungkinan akan bergabung secara virtual. Indonesia telah menolak tekanan-tekanan yang diberikan oleh negara-negara barat terkait penarikan undangannya kepada Presiden Putin serta mengusir Rusia dari kelompok tersebut karena perang di Ukraina, dengan berkata bahwa Indonesia tidak memiliki wewenang untuk melakukan hal tersebut tanpa konsensus di antara anggota.

Dilansir dari reuters.com, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, mengatakan bahwa “(Presiden) telah mencoba untuk memastikan bahwa semua orang tenang dan itu tampaknya terjadi sekarang.” Presiden berkata kepada Financial Times bahwa Rusia disambut dengan baik di KTT, namun, ia mengkhawatirkan akan dibayangi peningkatan ketegangan internasional yang “sangat mengkhawatirkan”. Presiden memberikan pernyataan bahwa “G20 tidak dimaksudkan sebagai forum politik. Ini dimaksudkan untuk menjadi tentang ekonomi dan pembangunan.”

Presiden Putin tidak akan menghadiri pertemuan G20. (Photo: reuters.com)

‘Group of 20’ (G20) merupakan sebuah forum ekonomi terbesar di dunia, dengan tujuan untuk menemukan solusi atas beberapa masalah paling sulit yang dihadapi ekonomi global. Tahun ini, pertemuan puncaknya akan berlangsung pada tanggal 15 dan 16 November di Bali akan membahas beberapa tantangan ekonomi yang lebih menakutkan dari biasanya. Adanya inflasi di beberapa negara dengan titik tertinggi 40 tahun, dikarenakan karena melonjaknya harga energi akibat perang di Ukraina dan kebijakan “zero COVID” China yang mengganggu rantai pasokan.

Bank-bank sentral yang meningkatkan suku bunga demi menjinakkan harga-harga yang tidak terkendali, serta meningkatnya kekhawatiran terkait dunia yang kemungkinan akan segera beralih dari krisis biaya hidup ke resesi global. Secara bersamaan, Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara ekonomi lainnya menghadapi seruan untuk melakukan tindakan drastis guna mencegah krisis iklim.

Dilansir dari aljazeera.com, seorang ekonom senior, Trinh Nguyen, mengatakan bahwa tantangan yang akan dihadapi bagi G20 adalah membentuk rantai pasokan global yang lebih terintegrasi dan kurang rentan terhadap guncangan geopolitik seperti invasi Rusia ke Ukraina. ‘The International Monetary Fund’ (IMF) memperkirakan inflasi global yang meningkat terus sepanjang tahun, mencapai 8,8 persen di 2022, dibandingkan dengan 4,7 persen di tahun 2021, yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti pandemi COVID 19, gangguan rantai pasokan, perang di Ukraina, dan tingginya harga bahan bakar.

G20 yang terdiri dari 19 negara dan Uni Eropa, tengah berjuang dalam mencapai konsensus akan krisis biaya hidup serta para menteri keuangan dan gubernur bank sentral yang membatalkan pemberitahuan yang direncanakan membahas inflasi, kekurangan pangan dan pasokan global, dan pertumbuhan ekonomi yang lamban dikarenakan perselisihan atas Ukraina.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today