Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengultimatum tentara Rusia untuk mundur dari wilayah pendudukan Ukraina, menyebut hari Natal sebagai saat yang pas untuk angkat kaki. Hal itu diungkapkannya selama konferensi pers dengan para pemimpin kelompok G7.
“Adalah tepat untuk memulai penarikan pasukan Rusia dari wilayah Ukraina yang diakui secara internasional pada Natal ini. Jika Rusia menarik pasukannya dari Ukraina, maka penghentian permusuhan yang andal akan dipastikan,” kata Zelensky konferensi.
“Jawaban dari Moskow akan menunjukkan apa yang sebenarnya mereka inginkan di sana konfrontasi lebih lanjut dengan dunia atau akhirnya mengakhiri agresi,” imbuhnya seperti dikutip dari ABC News, Rabu (14/12/2022). Dalam sebuah pernyaataan bersama para pemimpin G7 pun mendukung seruan Zelensky.
“Rusia dapat segera mengakhiri perang ini dengan menghentikan serangannya terhadap Ukraina dan menarik pasukannya sepenuhnya dan tanpa syarat dari wilayah Ukraina,” bunyi pernyataan bersama itu. Sebelumnya, juru bicara Kremlin Dmitri Peskov mengatakan kemungkinan penarikan pasukan Rusia dari Ukraina sebelum akhir tahun “di luar pertanyaan.”

“Ini di luar pertanyaan,” ungkap Peskov, mengomentari kemungkinan penarikan pasukan Rusia dari Ukraina sebelum akhir tahun 2022. Juru bicara itu menambahkan, tidak ada kemajuan yang dicapai dalam penyelesaian perdamaian tanpa mempertimbangkan realitas baru di Ukraina.
“Pihak Ukraina perlu mempertimbangkan realitas yang berkembang selama ini. Sebenarnya, ini adalah realitas yang terjadi karena garis itu, karena kebijakan yang ditempuh kepemimpinan Ukraina dan rezim Ukraina saat ini, mungkin selama 15 atau bahkan 20 tahun terakhir,” ujar dia.
Kremlin telah menolak semua permohonan sebelumnya untuk membatalkan perampasan tanahnya di Ukraina. Itu tidak segera menanggapi yang terbaru
ini.
Kedua negara belum terlibat dalam pembicaraan damai baru-baru ini dan tidak ada akhir yang terlihat untuk perang, yang memasuki bulan ke-10 dan telah membunuh dan melukai puluhan ribu orang dan meninggalkan lusinan kota dan kota Ukraina dalam reruntuhan.
Kremlin telah menolak semua permohonan sebelumnya untuk membatalkan perampasan tanahnya di Ukraina. Itu tidak segera menanggapi yang terbaru
ini.
Kedua negara belum terlibat dalam pembicaraan damai baru-baru ini dan tidak ada akhir yang terlihat untuk perang, yang memasuki bulan ke-10 dan telah membunuh dan melukai puluhan ribu orang dan meninggalkan lusinan kota dan kota Ukraina dalam reruntuhan. (Ukhti Muti’ah)





