Benjamin Netanyahu mengumumkan telah mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan baru Israel dengan mitra agama dan politik sayap kanan garis keras. Kesepakatan ini akan membuatnya kembali berkuasa sebagai kepala koalisi sayap kanan paling keras dalam dalam sejarah Israel.
Menyusul kemenangan Pemilu 1 November, Netanyahu mendapatkan mandat untuk membentuk pemerintahan yang didukung oleh partai-partai Yahudi ultra-Ortodoks dan blok ekstrem kanan yang berjalan di bawah aliansi Zionisme Religius.
Tenggat waktu untuk menyimpulkan pembicaraan koalisi telah ditetapkan berakhir pada tengah malam pada hari Rabu.
Beberapa menit sebelum tengah malam, Netanyahu yang akan menjadi Perdana Menteri memberi tahu Presiden Israel Isaac Herzog melalui telepon bahwa dia sudah dapat mendirikan pemerintahan baru.

Demikian disampaikan kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan hari Kamis (22/12/2022), seperti dikutip Al Jazeera. Belum jelas kapan pemerintah baru akan dilantik.
Netanyahu mengatakan kepada Herzog bahwa dia bermaksud melakukannya “sesegera mungkin”.“Saya telah berhasil (membentuk pemerintahan),” tulis Netanyahu di Twitter. Seorang juru bicara Presiden Herzog mengonfirmasi bahwa pernyataan Netanyahu itu telah diterima.
Netanyahu, yang menghadapi tuduhan korupsi di pengadilan, telah menjabat sebagai perdana menteri Israel lebih lama dari siapa pun dalam sejarah negara itu termasuk tugas antara 1996 hingga 1999 dan masa jabatan 12 tahun dari 2009 hingga 2021.
Di antara langkahnya yang paling kontroversial untuk membentuk koalisinya adalah janji untuk memberikan pos Kementerian Keamanan yang diperluas kepada ketua partai ultra-nasionalis Jewish Power, Itamar Ben Gvir, yang memiliki sejarah panjang menggunakan retorika pembakar terhadap warga Palestina.
Peran pemerintah yang dijanjikan Netanyahu kepada kelompok garis keras seperti Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, dari partai Zionisme Religius sayap kanan, telah mengejutkan warga Palestina dan kubu liberal Israel. Ben-Gvir dan Smotrich menentang kenegaraan Palestina dan mendukung perluasan kendali Israel atas Tepi Barat yang diduduki.
Ben-Gvir diharapkan menjabat sebagai Menteri Keamanan dengan otoritas atas polisi, sementara Smotrich akan memiliki kendali atas perencanaan di Tepi Barat yang diduduki, memberinya kekuasaan luas atas kehidupan warga Palestina dan membuka pintu bagi perluasan pemukiman ilegal Israel di tanah Palestina.
Ben-Gvir juga ingin mengambil kendali lebih besar atas polisi dengan undang-undang yang akan memberinya wewenang langsung atas masalah kebijakan yang biasanya diputuskan oleh komisaris polisi. (Ukhti Muti’ah)






