Ukraina Menanggapi Usulan “Gencatan Senjata Sementara” Rusia Sebagai “Kemunafikan”

Rusia mengusulkan "gencatan senjata sementara" yang ditolak oleh Ukraina dan dianggap sebagai "kemunafikan". (Photo: AP Photo)
0 0
Read Time:1 Minute, 44 Second

Pada hari Kamis, Kremlin memberikan pernyataan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan menteri pertahanannya untuk melakukan gencatan senjata sementara di Ukraina selama 36 jam minggu ini, agar para umat Kristen Ortodoks dapat menghadiri acara kebaktian Natal. Tetapi, hal itu dengan cepat ditolak oleh para pejabat Ukraina dan disebut sebagai “kemunafikan.”

Dilansir dari edition.cnn.com, Presiden Putin datang setelah pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill dari Moskow, menyerukan gencatan senjata pada tanggal 6 hingga 7 januari.

Namun, para pejabat Ukraina menyuarakan skeptisisme terkait dengan gencatan senjata sementara, dengan menyatakan bahwa Moskow hanya menginginkan jeda untuk mengumpulkan kembali persediaan cadangan, peralatan, dan amunisi.

Presiden Ukraina, Volodmyr Zelensky, mengatakan pada pidatonya di hari Kamis malam, bahwa Rusia hanya menjadikan Natal Ortodoks “sebagai kedok” untuk mengumpulkan persediaan kembali dan menghentikan kemajuan Ukraina di wilayah Donbas timur. “Apa yang akan dicapai? Hanya menambah jumlah korban,” ujarnya.

Ukraina menebutkan bahwa “gencatan senjata sementara” ini hanya untuk memberikan Rusia jeda agar dapat mengumpulkan kembali persediaannya. (Photo: Reuters)

Kepala administrasi militer regional Luhansk, Serhiy Haidai, memberikan pernyataan melalui televisi Ukraina, “mengenai gencatan senjata ini, mereka hanya ingin mendapatkan semacam jeda selama satu atau dua hari, untuk menarik lebih banyak cadangan, membawa lebih banyak amunisi.”

Haidai juga menambahkan bahwa “Rusia tidak bisa dipercaya. Tidak ada satu kata pun yang mereka katakan.”

Kedua belah pihak dilaporkan telah menerima berbagai tantangan dalam beberapa minggu terakhir, seperti ekonomi Ukraina yang menyusut lebih dari 30% tahun lalu, dengan serangan rudal Rusia yang menghancurkan infrastruktur sipil, membuat para masyarakat tidak memiliki pemanas di puncak musim dingin.

Sedangkan untuk pihak Rusia telah kehilangan sejumlah besar pasukan Rusia yang memicu kontroversi di dalam Rusia, akibat serangan Ukraina terhadap barak-barak milik Rusia.

Mykhailo Podolyak, yang merupakan seorang penasihat Presiden Ukraina, menanggapi langkah Putin di Twitter dengan menyatakan bahwa Rusia harus meninggalkan “wilayah yang diduduki” di Ukraina sebelum “gencatan senjata sementara”.

“Pertama. Ukraina tidak menyerang wilayah asing dan tidak membunuh warga sipil. Seperti yang dilakukan RF [Federasi Rusia]. Kedua. RF harus meninggalkan wilayah-wilayah yang diduduki, hanya dengan begitu akan ada ‘gencatan senjata sementara’. Simpan kemunafikan untuk diri anda sendiri,” ujar Podolyak.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today