PM Jepang Menyatakan, “Sekarang Atau Tidak Sama Sekali” Terkait Penanganan Krisis Populasi Negaranya

Akibat menurunnya tingkat kelahiran di Jepang, membuat negara tersebut dilanda oleh krisis populasi. (Photo: GettyImages/Richard A. Brooks)
0 0
Read Time:1 Minute, 46 Second

Pada hari Senin, Perdana Menteri Jepang memberikan sebuah peringatan terkait krisis populasi negara Jepang, dengan menyatakan bahwa Jepang “berada di ambang ketidakmampuan untuk mempertahankan fungsi-fungsi sosial” dikarenakan menurunnya tingkat kelahiran.

Dilansir dari edition.cnn.com, Fumio Kishida, dalam pidato kebijakan di hadapan para anggota parlemen, menyampaikan bahwa hal itu merupakan kasus untuk menyelesaikan masalah “sekarang atau tidak sama sekali,” dan “tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”

Perdana Menteri menyampaikan, “dalam memikirkan keberlanjutan dan inklusivitas ekonomi dan masyarakat negara kita, kami menempatkan dukungan pengasuhan anak sebagai kebijakan yang paling penting.”

Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, mengatakan bahwa penanganan krisis populasi ini harus dilakukan “sekarang atau tidak sama sekali. (Photo: AP Photo/Kazuki Oishi)

Kishida juga menambahkan bahwa dirinya ingin pemerintah dapat segera melipatgandakan pengeluarannya untuk program-program yang berkaitan dengan anak, dan mengatakan bahwa badan pemerintah baru akan dibentuk pada bulan April yang berfokus pada permasalahan tersebut.

Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia, dilaporkan pada tahun 2022, Kementerian Kesehatan mencatat kurang dari 800.000 kelahiran, yang dimana untuk pertama kalinya pencatatan ini dilakukan sejak dimulai pada tahun 1899.

Menurut data, Jepang juga menjadi salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia, diketahui pada tahun 2020, hampir satu dari 1.500 orang di Jepang berusia lebih dari 100 tahun.

Para ahli memperlihatkan beberapa faktor yang mengakibatkan rendahnya angka kelahiran di Jepang. Tingginya biaya hidup, terbatasnya tempat tinggal, dan kurangnya dukungan penitipan anak di daerah perkotaan, menjadi kesulitan tersendiri untuk membesarkan anak, yang berarti lebih sedikit pasangan yang mempunyai anak.

Beberapa orang mengungkapkan bahwa anak muda di Jepang memiliki rasa pesimis yang tinggi terhadap masa depan, tidak sedikit yang merasa frustasi dengan tekanan pekerjaan dan stagnasi ekonomi.

Diketahui perekonomian Jepang telah berhenti berkembang sejak meledaknya aset pada awl 1990-an. Berdasarkan data dari Bank Dunia, pertumbuhan PDB Jepang melambat dari 4,9% di tahun 1990 menjadi 0,3% di tahun 2019.

Sementara menurut data tahun 2021 dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan riil tahunan rumah tangga turun dari sekitar Rp 753 juta di tahun 1995, menjadi Rp 644 juta di tahun 2020.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today