Pada hari Kamis (19/1/2023), melalui konfrensi persnya, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri dari jabatannya setelah menjabat selama hampir 6 tahun.
Dalam konferensi persnya, Ardhan mengatakan bahwa “Keputusan ini adalah keputusan saya sendiri, “Memimpin sebuah negara adalah pekerjaan paling istimewa yang bisa dimiliki oleh siapa pun, namun juga paling menantang.
Anda tidak dapat dan tidak boleh melakukan pekerjaan ini kecuali anda memiliki tanki yang penuh, ditambah sedikit cadangan untuk menghadapi tantangan yang diluar dugaan.”
“Saya tidak lagi memiliki cukup tenaga untuk melakukan pekerjaan ini,” tambahnya.
Jacinda Ardern juga mengatakan akan mengakhiri masa jabatannya pada (7/1/2023) mendatang.
Ia tidak yakin memiliki energi untuk kembali mencalonkan diri pada pemilu bulan Oktober. Setelah itu ia sepenuhnya pensiun dari politik, dan ingin menghabiskan waktu bersama keluarga.

Ketika pertama kali Ardern menjadi perdana menteri pada tahun 2017 di usianya yang ke 37 tahun, ia adalah pemimpin perempuan ketiga Selandia Baru dan salah satu pemimpin termuda di dunia.
Popularitasnya telah meluas hingga ke luar negeri sampai menghiasi sampul majalah Vogue dan Time.
Ardern mendapatkan reputasi yang baik sebagai figure perempuan, dengan sering berbicara tentang kesetaraan gender dan hak-hak perempuan.
Misalnya, saat mengumumkan kehamilannya pada tahun 2018, ia menegaskan bahwa perempuan itu mampu untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan perannya sebagai ibu.
“Saya bukan wanita pertama yang melakukan banyak tugas, saya bukan wanita pertama yang bekerja dan memiliki bayi, saya tahu ini adalah situasi yang istimewa, tetapi akan ada banyak wanita yang telah melakukan hal ini dengan baik sebelum saya,” ujarnya.
Setelah melahirkan, ia dan suaminya Gayford membawa bayi mereka yang berusia 3 bulan ke Sidang Umum PBB, dan Ardern mengatakan bahwa ia ingin “menciptakan jalan bagi perempuan lain” dan membantu membuat tempat kerja lebih terbuka.
Sehingga ia mendapat banyak dukungan dari kalangan anak muda dan dalam gelombang yang dijuluki “Jacindamania” selama masa pemilihan pertamanya.
Namun, meskipun Ardern mendapatkan dukungan secara global karena pendekatannya yang segar dan berempati.
Popularitasnya telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir, beberapa kritikus berpendapat bahwa ia tidak melakukan banyak hal untuk mewujudkan pemerintahan transformasional yang dijanjikannya ketika pertama kali terpilih.
Bryce Edwards, seorang ilmuwan politik di Victoria University of Wellington, Selandia Baru, mengatakan bahwa pengunduran diri Ardern “mengejutkan” tetapi tidak sepenuhnya mengejutkan. “Ia dipuja-puji di seluruh dunia namun pemerintahannya anjlok dalam jajak pendapat,” ujarnya.
Beberapa jajak pendapat pada akhir 2022 menunjukkan penurunan dukungan untuk Ardern dan Partai Buruhnya, dengan beberapa di antaranya berada pada level terendah sejak ia menjabat pada 2017, menurut afiliasi CNN, Radio Selandia Baru.
Edwards, analis politik, mengatakan keputusan Ardern untuk mundur mungkin menghindarkannya dari hasil pemilu yang mengecewakan. “Mundur sekarang adalah hal terbaik untuk reputasinya. Dia akan keluar dengan cara yang baik daripada kalah dalam pemilu,” katanya. (Rifaldi Chandradinata)






