Pada hari Kamis, telah terjadi sebuah “serangan teroris” yang dimana Rusia menuduh para penyabotase dari Ukraina telah melintasi perbatasannya dan melakukan serangan tersebut di beberapa desa.
Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh para pejabat di Kyiv dengan sebuah pernyataan bahwa hal itu adalah sebuah “provokasi” palsu yang dapat digunakan oleh Moskow untuk meningkatkan konflik.
Dilansir dari nbcnews.com, masih belum jelas terkait situasi dari kasus yang terjadi di wilayah Bryansk, Rusia selatan, tetapi, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut serangan itu sebagai “serangan teroris” di dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi.
“Mereka tidak akan mencapai apa pun. Kami akan menghancurkan mereka,” ujar Putin, yang juga menambahkan bahwa kelompok itu telah menyerang para warga sipil.
Pernyataan tersebut disampaikannya sesaat setelah Alexander Bogomaz, yang merupakan Gubernur Bryansk, mengungkapkan melalui sebuah postingan di Telegram bahwa para kelompok tersebut telah menewaskan seorang warga pada saat mereka menembaki sebuah mobil yang tengah melaju.

Bogomaz juga menambahkan bahwa seorang anak yang berusia 10 tahun dalam keadaan terluka dan telah dilarikan ke rumah sakit.
Dinas keamanan internal FSB Rusia, memberikan pernyataan kepada kantor berita pemerintah, Tass, bahwa pasukannya bersama dengan tentara tengah berusaha untuk melikuidasi terkait apa yang mereka gambarkan sebagai “kelompok bersenjata nasionalis Ukraina” yang sudah melintasi perbatasan.
Tetapi, Mykhailo Podolyak, selaku penasihat presiden Ukraina, memberikan gambaran terkait laporan dari Rusia itu sebagai “provokasi klasik yang disengaja” dan mengatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh partisan Rusia. Menurut NBC News, klaim dari kedua belah pihak belum bisa diverifikasi.
Sebuah kelompok yang menyebut dirinya sebagai Korps Sukarelawan Rusia telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut melalui sebuah postingan di media sosial dan video yang beredar di dunia maya.
Kelompok tersebut telah membantah keterlibatan unit sabotase Ukraina dalam serangan ini, walaupun kelompok itu menyebut dirinya sebagai “formasi sukarelawan di Angkatan Bersenjata Ukraina” yang menentang Putin.
Menurut pernyataan dari kelompok tersebut yang dibagikan melalui saluran Telegram, menyatakan bahwa, “Korps Sukarelawan Rusia pergi ke wilayah Bryansk untuk menunjukkan kepada rekan-rekan mereka bahwa masih ada harapan, bahwa orang-orang Rusia yang bebas dengan senjata di tangan mereka dapat melawan rezim.”






