Pada hari Senin, Andy Jassy, selaku CEO Amazon, mengungkapkan dalam sebuah memo yang diberikan kepada para staffnya bahwa Amazon akan memberhentikan 9.000 pegawai lagi.
Dilansir dari NBCNews.com, pemutusan hubungan kerja tersebut adalah kelanjutan dari pemutusan hubungan kerja yang sebelumnya sudah dilakukan pada bulan November 2022 dan diperpanjang hingga bulan Januari. Pemutusan hubungan kerja itu diketahui telah memberikan dampak terhadap lebih dari 18.000 pegawai.
Pihak Amazon mengambil keputusan untuk memberhentikan lebih banyak pegawai dikarenakan pihaknya ingin memangkas biaya serta mempertimbangkan kembali ekonomi yang tidak menentu, dan “ketidakpastian yang ada dalam waktu dekat,” ungkap Jassy.
Amazon dikabarkan baru saja merampungkan tahap kedua dari proses penganggaran tahunannya, yang dimana secara internal dikenal dengan sebutan “OP2”.

Jassy menyampaikan bahwa, “prinsip utama dari perencanaan tahunan kami tahun ini adalah untuk menjadi lebih ramping sambil melakukannya dengan cara yang memungkinkan kami untuk tetap berinvestasi dengan kuat dalam pengalaman pelanggan jangka panjang utama yang kami yakin dapat meningkatkan kehidupan pelanggan dan Amazon secara keseluruhan.”
Di dalam memo tersebut, Jassy juga mengatakan bahwa pemutusan hubungan kerja ini khususnya akan berdampak pada bidang cloud computing, sumber daya manusia, periklanan, dan bisnis live streaming Twitch.
Amazon memotong jumlah pegawainya pada saat setelah melakukan rekrutmen besar-besaran selama pandemi Covid, dan diketahui bahwa tenaga kerja global perusahaan tersebut telah melonjak menjadi lebih dari 1,6 juta di akhir 2021, yang dimana angka tersebut mengalami kenaikan dari 798.000 pada kuartal empat tahun 2019.
Jassy saat ini tengah melakukan peninjauan secara menyeluruh terhadap pengeluaran perusahaan, dikarenakan Amazon telah memperhitungkan pelemahan ekonomi serta deselerasi pertumbuhan bisnis ritelnya.
Dilaporkan Amazon juga telah membekukan rekrutmen tenaga kerja perusahaan, memberhentikan sejumlah proyek eksperimental, dan memperlambat ekspansi gudang.
Walaupun Amazon memiliki tujuan untuk beroperasi lebih ramping di tahun ini, Jassy menjelaskan bahwa ia tetap optimis terhadap “bisnis terbesar” perusahaan, yakni ritel dan Amazon Web Sevices, dan divisi-divisi baru lainnya yang secara terus-menerus diinvestasikan.






