Serangkaian serangan udara yang diluncurkan Israel diketahui telah menghancurkan sebuah masjid dan sebuah pasar di Lebanon selatan, dalam apa yang dideskripsikan sebagai adegan “apokaliptik” ketika Israel mengintensifkan dan memperluas kampanye pengeboman di seluruh negeri.
Kantor Berita Nasional melaporkan bahwa serangan terbaru yang dilakukan oleh Israel pada hari Minggu pagi mengakibatkan sebuah masjid tua di desa Kfar Tibnit, Lebanon Selatan “hancur total”.
Dikutip dari Aljazeera.com, Palang Merah Lebanon menyatakan bahwa telah terjadi serangan terhadap sebuah pasar di kota bagian selatan Nabatieh pada Sabtu malam yang menewaskan beberapa orang dan mengakibatkan kebakaran. Jumlah korban tewas maupun luka-luka belum dapat dipastikan karena kebakaran yang sangat besar.

Serangan terbaru ini berlangsung setelah Israel memerintahkan penduduk Lebanon untuk mengungsi dari 23 desa di bagian selatan. Banyak masyarakat yang mengungsi ke Lebanon utara untuk menghindari serangan udara milik Israel.
Sementara itu dikabarkan juga bahwa setidaknya 15 orang tewas dan 37 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang terjadi di Lebanon tengah dan utara ketika pasukan Israel menghantam sedikitnya tiga wilayah di luar benteng tradisional milik kelompok Hizbullah Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengungkapkan bahwa Kota Deir Billa, Lebanon utara telah dihantam oleh serangan udara Israel untuk pertama kalinya sejak permusuhan meningkat. Dua orang dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka ketika “potongan tubuh” yang tidak teridentifikasi ditemukan setelah serangan Israel.
Kementerian tersebut juga mengatakan bahwa empat orang tewas dan 18 lainnya mengalami luka-luka dalam sebuah serangan di Barja, selatan Beirut, dan dilaporkan juga bahwa sembilan orang tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam sebuah “serangan musuh” yang terjadi di desa Maaysrah, sebelah utara Beirut.
Serangan yang dilakukan oleh Israel itu juga telah melukai seorang penjaga perdamaian PBB lainnya di selatan, yang mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan negara-negara Barat untuk mengutuk serangan tersebut, yang dideskripsikan oleh PBB sebagai “perkembangan yang serius”.
Andrea Tenenti, selaku juru bicara misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon, UNIFIL, menyatakan bahwa ia khawatir akan eskalasi Israel terhadap Hizbullah secara cepat dapat berubah “menjadi konflik regional dengan dampak bencana bagi semua orang”. “Tidak ada solusi militer”, Tenenti menambahkan dalam laman Aljazeera.com.
Sedikitnya lima pasukan penjaga perdamaian PBB telah terluka selama berlangsungnya pertempuran di Lebanon selatan dalam dua hari, ungkap UNIFIL. Tenenti menambahkan “banyak kerusakan” telah terjadi pada pos-posnya di sana.

Berdasarkan laporan, dalam sebuah panggilan telepon pada hari Sabtu Lloyd Austin selaku Menteri Pertahanan AS mengatakan kepada Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant bahwa UNIFIL tidak boleh menjadi target sasaran.
Sementara itu, Hizbullah mengungkapkan bahwa para pejuangnya meledakkan sebuah alat peledak dan bentrok dalam baku tembak terhadap pasukan Israel yang tengah mencoba untuk menyusup ke dalam desa Ramyah, Lebanon selatan. Melalui media sosial, kelompok ini menyatakan bahwa serangan itu mengakibatkan kematian di lingkungan pasukan Israel dan pertempuran masih akan terus berlanjut di sekitar wilayah desa tersebut.
Sedikitnya 1.645 orang telah dinyatakan tewas sejak serangan yang ditingkatkan oleh Israel di Lebanon pada bulan September, sementara pertempuran antara Hizbullah dengan pasukan Israel yang telah berlangsung selama satu tahun menyebabkan 2.255 orang tewas, menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Lebanon.






