Penangkapan Digital, Teknologi Deepfake Terbaru Untuk Kejahatan Siber

Penangkapan digital, sebuah kejahatan siber terbaru dengan bantuan AI. (Source: thehindu.com)
0 0
Read Time:2 Minute, 44 Second

Seorang pengusaha tekstil asal India mengungkapkan bahwa dirinya telah ditipu sebesar Rp 12,9 miliar oleh para penipu online yang melakukan penyamaran sebagai penyelidik federal dan bahkan ketua Mahkamah Agung.

Pada tanggal 28 Agustus, para penipu tersebut menyamar sebagai petugas dari Biro Investigasi Pusat India (CBI) melakukan panggilan telepon kepada SP Oswal, selaku ketua dan direktur pelaksana produsen tekstil Vardhman, dan menuduhnya telah melakukan pencucian uang.

Dilansir dari Aljazeera.com, Oswal berada di bawah pengawasan digital karena ia diperintahkan untuk tetap membuka Skype di ponselnya selama 24 jam sehari, selama dua hari berikutnya, yang di mana ia diinterogasi dan diancam akan ditangkap. Para penipu tersebut juga melakukan sidang pengadilan virtual palsu dengan peniruan digital Ketua Mahkamah Agung India DY Chandrachud sebagai hakim.

Para penipu akan memberikan tuduhan palsu dan mengawasi para korban yang telah menjadi targetnya melalui konferensi video. (Source: munsifdaily.com)

Setelah putusan pengadilan melalui Skype ditetapkan, Oswal membayar jumlah tersebut tanpa menyadari bahwa ia telah menjadi korban dari penipuan online yang menggunakan modus operandi terbaru, yang disebut sebagai “penangkapan digital”.

Penangkapan digital merupakan sebuah bentuk baru penipuan online yang di mana penipu akan meyakinkan korban bahwa mereka tengah berada di bawah penangkapan “digital” atau “virtual” dan korban akan dipaksa untuk tetap terhubung dengan penipu melalui perangkat lunak konferensi video. Kemudian penipu akan memanipulasi target mereka untuk terus melakukan kontak video, yang secara efektif telah membekuk mereka untuk memenuhi segala tuntutan penipuan dari penipu.

Sama halnya seperti phising, penangkapan digital, merupakan sebuah jenis serangan siber baru yang berkaitan dengan penipuan individu untuk mengungkapkan informasi sensitif yang melibatkan pencurian identitas, kerugian finansial, atau mencuri data untuk tujuan jahat. Teknik penipuan ini telah menjadi lebih canggih dengan munculnya audio dan video yang dapat dihasilkan menggunakan bantuan dari AI.

Phishing merupakan sebuah serangan siber yang di mana penipu menyamar sebagai organisasi ataupun orang yang sah untuk menipu individu atau organisasi agar membocorkan segala bentuk informasi bersifat sensitif.

Para penipu akan mengiming-imingi korban dengan kerugian besar, baik kerugian finansial maupun konsekuensi hukum lainnya, dan para penipu tersebut akan meyakinkan korban bahwa mereka “ada di sini untuk membantu”. Banyak korban yang terbuai dan jatuh ke dalam perangkap atau dipaksa untuk menurunkan kewaspadaan mereka dan mengikuti instruksi dari penipu.

Yang membuat banyak dari penipuan ini terlihat sah dan meyakinkan adalah penggunaan perangkat lunak konferensi video. Sebagian besar penipuan dilakukan tanpa memperlihatkan wajah, dengan interaksi yang terjadi melalui panggilan telepon sederhana.

Dengan menggunakan bantuan AI, para pelaku kejahatan siber dapat meniru suara seseorang. (Source: infovistar.in)

Namun, dengan perangkat lunak konferensi video, seseorang yang menggunakan teknologi video deepfake yang canggih dapat muncul dan menyamar sebagai orang yang sama sekali berbeda – bahkan sering kali nyata – yang berpartisipasi dalam panggilan video tersebut.

Selain itu, dengan adanya potongan audio yang kemungkinan didapat dari seorang hakim atau petugas polisi tingkat tinggi, mesin AI audio mampu untuk meniru suara seseorang, yang nantinya akan digunakan oleh penipu.

“Ini hanyalah spear-phishing model baru, begitulah cara saya menjelaskannya, karena ini sangat ditargetkan dan menunjukkan kesadaran yang jauh lebih besar tentang keadaan korban daripada phishing lama, di mana seorang pangeran dari suatu tempat mengatakan bahwa dia perlu mengirim uang ke AS dan entah bagaimana, Anda adalah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan,” VS Subrahmanian, profesor ilmu komputer di Northwestern University, mengatakan kepada Al Jazeera dalam laman Aljazeera.com.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today