Pentingnya Mendisiplinkan Cara Berpikir yang Baik di Jaman AI

mencoba memahami setiap konsep yang dipaparkan Baron tentang proses berpikir dan pengambilan keputusan. (Sumber Foto : Glints.com)
0 0
Read Time:3 Minute, 41 Second

Saya masih mengingat dengan jelas suasana di toko buku Waterstones dekat kampus di pusat kota London, akhir tahun 1997 ketika saya membeli buku “Thinking and Deciding” karya Jonathan Baron edisi kedua.

Meski harga buku saat itu terasa cukup berat untuk kantong mahasiswa, terutama dengan kondisi krisis moneter yang sedang melanda Indonesia, keputusan untuk membelinya ternyata menjadi salah satu investasi terbaik saya.

Meski sejatinya buku tersebut termasuk dalam reading list studi saya di program master Decision Sciences jadi tersedia di perpustakaan kampus namun karena setiap saya mau pinjam selalu saja tidak tersedia akhirnya saya memutuskan membelinya.

Saya masih ingat bagaimana menghabiskan sore-sore musim dingin London membaca buku ini di perpustakaan kampus, mencoba memahami setiap konsep yang dipaparkan Baron tentang proses berpikir dan pengambilan keputusan.

Kini, 25 tahun kemudian, saat buku tersebut telah mencapai edisi kelima (2023), pemikiran Baron tentang bagaimana manusia berpikir dan mengambil keputusan menjadi semakin relevan di era artificial intelligence. Setiap hari kita dibanjiri informasi dari berbagai platform digital. ChatGPT dan asisten AI lainnya bisa memberikan jawaban instan untuk hampir semua pertanyaan.

Algoritma media sosial secara aktif memilihkan konten yang sesuai dengan preferensi kita. Di tengah kemudahan ini, justru kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan yang tepat menjadi semakin menantang.

Saat pertama kali membaca buku Baron di perpustakaan kampus yang tenang di London, konsep Active Open-minded Thinking (AOT) terasa seperti perspektif baru yang menyegarkan. AOT bukan sekadar berpikir kritis, tapi lebih seperti seorang detektif yang terus aktif mencari bukti baru, bahkan yang mungkin bertentangan dengan keyakinan awalnya.

Saya masih ingat mencoba menerapkan konsep ini saat mengerjakan thesis, bagaimana setiap argumen perlu diuji dari berbagai sudut pandang. Kini di era AI dimana algoritma cenderung menguatkan bias kita, kemampuan untuk secara aktif mencari perspektif berbeda menjadi semakin penting.

Salah satu konsep menarik dari Baron yang saya pelajari di ruang-ruang diskusi kampus London adalah “omission bias” – kecenderungan kita menganggap “tidak melakukan apa-apa” lebih baik daripada “mengambil tindakan yang berisiko”.

Di era AI, bias ini bisa sangat berbahaya. Misalnya, keengganan untuk mempelajari teknologi baru karena takut risiko, padahal tidak mengadopsi teknologi tersebut bisa membuat kita tertinggal jauh. Atau keputusan untuk tidak memverifikasi informasi yang kita terima, karena merasa lebih nyaman dengan apa yang sudah kita yakini.

Model tiga tahap Baron – pencarian (search), inferensi (inference), dan keputusan (decision) – yang saya pelajari di musim dingin London itu menjadi kerangka yang sangat berguna di era AI. Dalam tahap pencarian, kita perlu aktif mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, tidak hanya mengandalkan apa yang disajikan algoritma.

Pada tahap inferensi, kita harus bisa menganalisis informasi secara kritis, membedakan fakta dari opini, dan mengenali bias dalam data. Di tahap keputusan, kita perlu mempertimbangkan tidak hanya efisiensi dan manfaat praktis, tapi juga implikasi etis dan sosial dari pilihan kita.

Baron juga berbicara tentang “protected values” – nilai-nilai yang kita anggap tidak bisa dikompromikan. Saya ingat mendiskusikan konsep ini dengan teman-teman di kantin kampus, bagaimana setiap budaya memiliki nilai-nilai yang dianggap sakral.

Di era AI, konsep ini menjadi sangat penting ketika kita harus memutuskan sejauh mana kita akan mengadopsi teknologi. Misalnya, bagaimana menyeimbangkan efisiensi yang ditawarkan AI dengan nilai-nilai seperti privasi, otonomi, dan keadilan sosial.

Evolusi buku “Thinking and Deciding” dari edisi kedua yang saya beli di Waterstones hingga edisi kelima (2023) mencerminkan bagaimana tantangan dalam berpikir dan mengambil keputusan telah berubah. Jika dulu fokusnya lebih pada mengatasi bias kognitif dasar, kini kita juga harus mempertimbangkan bagaimana berinteraksi dengan kecerdasan buatan secara bijak.

Di era dimana AI bisa menghasilkan esai, kode program, bahkan karya seni, kemampuan manusia untuk berpikir mandiri, kritis, dan etis menjadi pembeda utama. Pelajaran dari Baron yang saya dapatkan mengingatkan kita bahwa teknologi secanggih apapun seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir kita.

Saat menatap tahun 2025 ini, sambil memandang edisi kelima “Thinking and Deciding” di rak buku digital di laptop saya, saya merasa bersyukur telah diperkenalkan dengan pemikiran Baron di Waterstones dua puluh lima tahun lalu.

Prinsip-prinsip yang ia ajarkan – keterbukaan pikiran yang aktif, kesadaran akan bias, pendekatan sistematis dalam pengambilan keputusan – menjadi semakin relevan di era AI. Teknologi boleh semakin canggih, tapi kemampuan untuk berpikir dengan baik tetap menjadi keterampilan fundamental yang perlu terus kita asah dan kembangkan.

Mendisiplinkan cara berpikir bukan berarti menolak bantuan teknologi, melainkan menggunakannya secara bijak sambil tetap mempertahankan otonomi dan ketajaman berpikir kita. Seperti yang ditunjukkan Baron selama seperempat abad terakhir, kualitas pemikiran kita akan menentukan kualitas keputusan dan pada akhirnya, kualitas hidup kita di era AI ini. (Rahmat Mulyana)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today