Evakuasi WNI di Nepal: 78 Orang Pulang ke Indonesia, 56 Memutuskan untuk Bertahan

pemerintah Indonesia terus mengevakuasi WNI yang berada di Nepal. (Sumber Foto : Kompas.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 41 Second

Kerusuhan yang belum mereda, pemerintah Indonesia terus mengevakuasi WNI yang berada di Nepal.

Menurut Judha Nugraha, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri RI, hingga Sabtu (13/9/2025), sebanyak 57 WNI yang berhasil dipulangkan.

“Pada 1 September ada 18 orang, 12 September ada 22 orang, dan hari ini jam 13.00 waktu Kathmandu, malam akan ada 17 WNI pulang, sehingga total ada 57 WNI yang dapat kita pulangkan per tanggal 13 hari ini,” kata Judha, saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusuma, Sabtu.

Judha mengatakan bahwa ada 134 WNI yang terdaftar di Nepal.

Mereka terdiri dari dua kelompok: 56 orang dari mereka adalah pemukim di Nepal, dan 78 orang dari kelompok kedua adalah WNI, yang berkunjung singkat untuk wisatawan dan bisnis.

Setelah evakuasi 57 orang, 17 orang lagi akan di evakuasi pada 14 September 2025.

Pada tanggal 15 September, dua WNI muncul, dan pada tanggal 18 September, dua lagi.

“Jadi, total Insya Allah pada 18 September seluruh WNI yang melakukan kunjungan singkat dapat kembali pulang ke Indonesia,” tutur dia.

Di sisi lain, 56 WNI yang bermukim memilih untuk tetap tinggal karena mereka memiliki keluarga di Nepal.

Judha menceritakan konflik yang terjadi ketika massa demonstrasi mengepung sejumlah WNI yang menginap di Hotel Hilton Nepal.

Ada 134 WNI yang terdaftar di Nepal. (Sumber Foto : Reuters)

“Tapi pada saat itu kita bisa segera evakuasi ke hotel yang lain. Jadi dapat kami sampaikan tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban dari kerusuhan ini,” ujar dia.

Sebagai informasi, demonstrasi besar-besaran yang dipimpin oleh generasi muda sejak Senin, 8 September 2025, telah menyebabkan kekerasan, kematian, dan pengunduran diri Perdana Menteri KP Sharma Oli, yang mengakibatkan krisis politik yang serius di Nepal.

Sejak Nepal menjadi republik demokratis pada tahun 2008, protes yang awalnya dipicu oleh larangan media sosial telah berkembang menjadi gerakan anti-korupsi terbesar.

Bentrokan antara polisi dan demonstran menyebabkan sedikitnya 30 orang tewas dan hampir 200 lainnya luka-luka.

Orang-orang yang disebut generasi Z bahkan melakukan pembakaran di gedung parlemen, kantor partai politik, dan rumah pejabat.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today