Dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook pada tahun 2019-2022, Kejaksaan Agung menegaskan tidak ingin terlibat saling sahut-menyahut dengan eks Mendikbudristek Nadiem Makarim.
Ini disampaikan pada Selasa (10/6/2025) pagi oleh Harli Siregar, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, sebagai tanggapan atas beberapa klarifikasi yang diberikan Nadiem Makarim.
“Kita kan masih berproses, penyidikan ini masih berproses, masih di awal. Kami tidak mau, apa namanya, saling sahut-sahutan,” ujar Harli, saat ditemui di Lobi Gedung Bundar Jampidsus Kejagung, Jakarta, Selasa malam.
Harli menyatakan bahwa penyidik akan berkonsentrasi pada bukti hukum yang telah mereka kumpulkan saat ini dan 28 saksi yang telah dijadwalkan untuk diperiksa.
Kejaksaan berterima kasih atas tindakan Nadiem untuk memberikan klarifikasi terkait beberapa berita yang menyasar namanya.
Harli mengatakan bahwa kasus Chromebook ini tidak seharusnya menimbulkan kontroversi karena ada pernyataan yang tidak masuk akal dari proses penyidikan.
“Tapi, kita juga tidak boleh berpolemik. Bahwa, yang menjadi dasar dari penilaian penyidik dalam proses penyidikan ini adalah keterangan-keterangan yang disampaikan oleh para saksi, kemudian bukti-bukti yang diperoleh selama proses penyidikan ini,” ujar dia.
Menurut Harri, penyidik hanya dapat bertanggung jawab atas fakta-fakta hukum yang ditemukan selama proses hukum yang sedang berlangsung, bukan masalah yang muncul di masyarakat terkait kasus tersebut.
“Saya kira sampai sejauh ini kami tidak pernah berkomentar soal berbagai pandangan-pandangan di luar. Tapi, kami tentu, penyidik fokus pada fakta-fakta yang diperoleh dalam proses penyidikan ini,” katanya.
Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat berbicara tentang masalah yang tersebar luas sampai masalah tersebut menjadi bukti hukum dalam proses penyidikan.
“Bahwa ada pandangan-pandangan lain, kami menghormati, tapi kami tidak dalam posisi itu (untuk mengomentari),” lanjut Harli.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan bahwa pada tahun 2023, 77.000 sekolah akan menerima 97 persen laptop Chromebook yang disediakan oleh Kemendikbudristek.
Setelah melakukan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan program, hal itu diketahui oleh pihaknya.
“Informasi yang saya dapat pada saat itu di tahun 2023 adalah 97 persen daripada laptop yang diberikan (kepada) 77.000 sekolah tersebut, itu aktif diterima dan teregistrasi,” kata Nadiem, saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/6/2025).
Dia menyatakan bahwa survei terus dilakukan secara berkala melalui pertanyaan kepada para kepala sekolah yang diberikan laptop oleh sekolahnya.
“Apakah mereka menerima laptop untuk proses pembelajaran? Dan di tahun 2023 sekitar 82 persen daripada sekolah menjawab mereka menggunakannya untuk proses pembelajaran, bukan hanya untuk asesmen nasional dan administrasi sekolah,” ungkap dia.
Proses pengadaan laptop yang digunakan untuk mendukung pembelajaran selama pandemi COVID-19 sangat lama, kata Nadiem.
Akibatnya, dana yang digunakan untuk pengadaannya berasal dari dua sumber: Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
“Jadi ada yang dari daerah juga,” ucap dia.






