Sejak hari Kamis, 24 Juli 2025, telah terjadi baku tembak yang berlangsung di perbatasan Thailand dan Kamboja. Dalam peristiwa ini, setidaknya 14 orang dilaporkan tewas serta 46 orang lainnya mengalami luka.
Dr. Warot Chotipittayasunon, selaku juru bicara Kementerian Kesehatan Thailand untuk situasi konflik perbatasan, mengungkapkan bahwa sampai dengan pukul 21.00 waktu setempat, jumlah korban yang terkena dampak akibat insiden tersebut sebanyak 60 orang, berdasarkan laporan yang dirilis oleh Nation Thailand.
“Kementerian Kesehatan menyampaikan kesedihan yang mendalam atas kehilangan ini dan memberikan dukungan penuh bagi semua warga Thailand yang terdampak,” ujar Dr. Warot, dikutip dari tempo.co.

Dilansir dari tempo.co, Dr. Warot menekankan bahwa selama masa krisis ini berlangsung, pihaknya bakal terus memberikan perlindungan secara menyeluruh untuk warga Thailand, baik dari segi kesehatan maupun kesejahteraan.
Dilaporkan bahwa puncak dari peristiwa ini terjadi pada hari Kamis pagi di sekitar Candi Prasat Ta Moan Thom yang berlokasi di Provinsi Surin, Thailand.
Menurut informasi yang diberitakan oleh Al Jazeera, insiden baku tembak yang terjadi sejak hari Kamis ini melibatkan sejumlah alat persenjataan, seperti senjata berat, roket, serta jet tempur yang diluncurkan oleh kedua pihak.
Pihak militer Thailand menuduh bahwa pasukan Kamboja memulai provokasi terlebih dahulu dengan meluncurkan drone pengintai yang berlangsung pada pukul 07.35 waktu setempat.
Kemudian, pasukan Kamboja bergerak mendekati pos militer Thailand dengan membawa peluncur roket dan menembakkannya ke arah sisi timur candi, yang berjarak sekitar 200 meter dari markas militer Thailand, lalu ke permukiman warga sipil.
Melihat serangan tersebut, militer Thailand kemudian melancarkan serangan balasan dengan mengerahkan enam jet tempur F-16.
Richa Suksuwanon, selaku juru bicara militer Thailand, menyatakan bahwa serangan balasan tersebut berhasil menghantam dua target militer yang lokasinya berada di dalam wilayah Kamboja.
Tetapi, pihak Kamboja menyangkal tuduhan itu. Maly Socheata, selaku Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, menyampaikan bahwa Thailand terlebih dahulu yang melancarkan serangan bersenjata.
“Thailand telah melanggar integritas wilayah kami. Pasukan kami menjalankan hak untuk membela kedaulatan setelah jet tempur Thailand menjatuhkan dua bom di jalan kami,” ungkapnya, dalam laman tempo.co.
Diketahui bahwa sampai saat ini, masih belum jelas pihak mana yang memulai tembakan pertama. Baik dari pihak Thailand maupun pihak Kamboja hingga saat ini masih saling menyalahkan, yang di mana hal tersebut juga berdampak pada jalur diplomasi yang ikut terhenti.





