Berdasarkan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Stanford Doerr School of Sustainability, mengemukakan bahwa kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang kerap terjadi di Amerika Serikat memiliki potensi menewaskan 70 ribu orang per tahunnya pada 2050.
Jumlah dalam penelitian tersebut untuk kematian yang disebabkan oleh paparan asap yang mengandung polutan (PM2.5) akibat kebakaran hutan.

“Pemahaman tentang siapa yang rentan terhadap paparan ini (PM2.5) jauh lebih luas dari yang kami kira,” kata Marshall Burke, profesor ilmu sosial lingkungan di Stanford Doerr School of Sustainability, dalam sebuah unggahan di situs resmi Stanford, tanggal 18 September 2025, dilansir dari Tempo.co.
Mengutip Tempo.co, penelitian tersebut dipublikasikan pada tanggal 18 September 2025, di jurnal Nature dengan judul ‘Wildfire Smoke Exposure and Mortality Burden in the US Under Climate Change’.
Dilaporkan bahwa asumsi yang diperoleh para peneliti berasal dari analisis yang dilakukan pada data kematian tingkat negara bagian di AS, periode 2006 hingga 2019.
Kemudian, data yang telah dianalisis tersebut dikaitkan dengan fluktuasi kematian akibat konsentrasi PM2.5 yang berasal dari asap kebakaran hutan di permukaan tanah, variasi angin, dan juga pergerakan partikel udara.
Para peneliti dikabarkan juga menggunakan mesin pembelajaran yang berbasis akal imitasi atau AI agar dapat mengestimasikan perubahan emisi kebakaran hutan yang terjadi di suatu wilayah.
Dinukil dari Tempo.co, para peneliti mengklaim bahwa hasil studi tersebut menunjukkan paparan asap yang di dalamnya terkandung PM2.5 dapat mengalami peningkatan hingga lebih dari 70 persen menjadi 70 ribu per tahunnya.
Prediksi peningkatan kematian yang disebabkan oleh paparan asap tahunan telah terjadi di California dengan 5.060 kematian tambahan; New York sebanyak 1.810; Washington sebanyak 1.730; Texas sebanyak 1.700; dan Pennsylvania sebanyak 1.600.






