Di jantung perdagangan grosir Jakarta Timur, fenomena tak biasa terjadi di area Pasar Induk Kramat Jati. Selama beberapa minggu terakhir, gunungan sampah dari aktivitas perdagangan sehari-hari telah menumpuk berlipat hingga mencapai ribuan ton sehingga menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang signifikan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan estetika — bau menyengat yang dihasilkan, potensi gangguan kesehatan, hingga kemacetan akses jalan menjadi sumber keluhan warga sekitar serta pedagang yang beraktivitas di pasar terbesar di Jakarta tersebut.

Penumpukan sampah yang luar biasa ini dipicu oleh sejumlah faktor. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan armada pengangkut yang selama ini mengangkut limbah pasar menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Bekasi, Jawa Barat.
Keterbatasan ini sempat diperparah ketika TPST Bantar Gebang mengalami gangguan operasional, termasuk penutupan sementara akibat longsor, yang berdampak pada penundaan jadwal pembuangan sampah dari sumbernya. Kondisi tersebut mengakibatkan sampah organik seperti sisa sayuran dan buah-buahan yang basah serta mudah membusuk terus menumpuk tanpa dapat segera dipindahkan.

Manajemen pasar serta instansi terkait kemudian mengambil langkah responsif: ratusan truk pengangkut bersama personel kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dan Unit Pelaksana Kebersihan lainnya dikerahkan untuk mempercepat proses pembersihan.
Dalam satu hari pertama operasi, sekitar 450 ton sampah berhasil diangkut dan dibawa ke TPST Bantar Gebang. Hal ini menunjukkan respons cepat pihak pengelola dalam menghadapi masalah yang telah berlangsung beberapa minggu tersebut. Meski demikian, diperkirakan masih ada ribuan ton sampah yang harus diatasi sehingga operasi ini perlu berlangsung berkelanjutan.
Proses pengangkutan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi. Petugas kebersihan pagi-pagi sekali sudah berada di lapangan untuk membersihkan lokasi yang sebelumnya terhalang oleh tumpukan sampah. Koordinasi lintas instansi dinilai penting agar penyelesaian sampah tidak sekadar memindahkan volume, melainkan juga mengendalikan sumbernya.

Dalam proses ini, alat berat seperti ekskavator juga digunakan untuk membantu pembongkaran sampah yang telah mengeras, sementara pengelola pasar terus menginstruksikan pedagang agar membuang limbah sesuai jadwal dan tempat yang telah ditetapkan.
Upaya ini dipandang sebagai dorongan awal yang penting untuk memulihkan kualitas lingkungan di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kesehatan publik. Namun demikian, tantangan pengelolaan sampah pasar yang besar memerlukan solusi jangka panjang, termasuk sistem pengolahan limbah yang lebih efisien, peningkatan armada angkut, serta koordinasi intensif antara pemerintah, pengelola pasar, dan masyarakat. Jika dikelola secara berkelanjutan, kondisi ini bisa menjadi contoh perbaikan tata kelola lingkungan di kawasan padat aktivitas ekonomi.









