Orang-orang di Kongo Mengamuk, Sasar Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa Dan Kedubes

Pada Selasa (28/1) waktu setempat, massa aksi unjuk rasa mengamuk di ibu kota Kinshasa, Kongo. (Sumber Foto : Anadolu)
0 0
Read Time:1 Minute, 54 Second

Pada Selasa (28/1) waktu setempat, massa aksi unjuk rasa mengamuk di ibu kota Kinshasa, Kongo. Demonstran merusak area di luar kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menargetkan beberapa kedutaan. Bahkan mereka mulai berfokus pada upaya penjarahan.

Ini adalah pernyataan yang diberikan oleh Stephane Dujarric, juru bicara PBB, dalam konferensi pers pada Rabu (29/1) WIB, seperti dikutip Anadolu.

Dilaporkan bahwa para pengunjuk rasa menyasar kantor PBB, kedutaan, dan tempat lain di ibu kota Kinshasa.

“Demonstran membakar area di luar kantor PBB, baik yang terkait dengan penjaga perdamaian atau sejumlah badan PBB lainnya, serta menargetkan beberapa kedutaan. Penjarahan juga telah dilaporkan terjadi di Kinshasa,” ujar Dujarric.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres langsung menelepon Presiden Republik Demokratik Kongo Felix Tshisekedi dan Presiden Rwanda Paul Kagame setelah insiden kekerasan itu terjadi.

“Jelas, mereka membahas situasi yang sedang berlangsung di bagian timur Republik Demokratik Kongo dalam pembicaraannya dengan Presiden Kagame, ada juga penekanan khusus pada perlindungan warga sipil di wilayah tersebut,” imbuhnya.

Dilaporkan bahwa para pengunjuk rasa menyasar kantor PBB, kedutaan, dan tempat lain di ibu kota Kinshasa. (Sumber Foto : ILUSTRASI UNSPLASH/aboodi vesakaran)

Dujarric menambahkan, penyelesaian krisis di Kongo akan membutuhkan waktu dan komitmen terhadap solusi politik. “Krisis di bagian timur Kongo telah berlangsung selama beberapa dekade. Ini tidak akan bisa diselesaikan dalam 24 jam,” ucap dia.

“Ada berbagai proses yang telah kita lihat, terutama Proses Luanda yang telah menunjukkan kemajuan,” katanya, mengutip Proses Luanda sebagai struktur yang menjanjikan. Kami mengharapkan partisipasi kembali dari semua pihak dalam proses itu.

Proses Luanda, yang dimulai pada tahun 2022, dirancang untuk mengurangi konflik dan mencapai perdamaian permanen antara Republik Demokratik Kongo dan Rwanda.

Sebelumnya, pada Senin (27/1), kelompok pemberontak M23, yang diduga didukung oleh Rwanda, mengklaim telah mengambil alih bagian timur kota Goma. Pada Selasa (28/1), M23 bahkan berhasil mengambil alih bandara kota. Sementara itu, pemerintah Kinshasa menyatakan bahwa pasukan Rwanda ada di sana.

Setidaknya 25 orang tewas di Goma, dan sembilan lainnya di Rwanda. Dalam bentrokan yang masih berlangsung, ratusan orang terluka.

Menurut penduduk lokal, sebagian kota dikuasai oleh pasukan pemerintah dan pemberontak, yang termasuk pengungsi lokal.

Pada Selasa (28/1), Matthew Saltmarsh, juru bicara Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), menyatakan bahwa lebih dari 500 ribu orang baru-baru ini mengungsi dari wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC) sebagai akibat dari pemberontakan bersenjata.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today