“The Store is Closed” merupakan sebuah permainan bertahan hidup atau survival yang masih berada dalam tahap pengembangan. Game “The Store is Closed” berlatarkan di dalam sebuah toko furnitur tanpa batas, memberikan kebebasan kepada para pemain untuk menjelajahi area toko tanpa mengkhawatirkan adanya halangan ataupun batasan di setiap area.
Para pemain akan digambarkan sebagai seseorang yang terjebak di dalam sebuah toko furnitur pada saat jam tutup para staf mutan yang memburu dan mencoba untuk membunuh para pemain. Satu-satunya cara yang dilakukan para pemain untuk bertahan hidup adalah dengan menjelajahi setiap area di dalam toko furnitur tersebut dan menggunakan barang-barang berupa furnitur yang telah disediakan agar dapat membuat benteng pertahanan maupun senjata.
Dilansir dari pcgamer.com, penciptanya Jacob Shaw menyebutkan bahwa game “The Store is Closed” direferensikan sebagai “permainan IKEA tanpa batas”. Sayangnya, game “The Store is Closed” yang sedang dikembangkan oleh Jacob Shaw menarik perhatian dari pihak IKEA di dunia nyata tentang status legalitasnya. Pihak IKEA telah mengutus perwakilan hukumnya untuk mengirimkan surat tuntutan kepada Jacob Shaw selaku pembuat game “The Store is Closed”.

Agar game tersebut dapat diubah dan akan memberikan ancaman berupa gugatan jika tidak dilakukan, berdasarkan surat yang dibagikan oleh Jacob Shaw kepada pcgamer.com berisikan, “klien kami telah mempelajari bahwa saat ini anda sedang mengembangkan sebuah video game, The Store is Closed, yang menggunakan dan tanpa otorisasi dari klien kami, indikasi terkait dengan toko IKEA yang terkenal”.
“Game anda menggunakan logo berwarna biru dan kuning dengan unsur nama Scandinavian pada toko tersebut, toko berbentuk kotak dan berwarna biru, baju kuning bergaris vertikal yang identik dengan pakaian para personil IKEA, jalur berwarna abu-abu pada lantai, furnitur yang terlihat mirip seperti furnitur di IKEA, dan lambang produk yang mirip dengan lambang IKEA. Berdasarkan deskripsi di atas menunjukkan permainan tersebut berlatarkan di IKEA”.
Berita baik bagi Shaw adalah pihak pengacara dari IKEA tidak menuntut agar proyek tersebut dihentikan, melainkan hanya diganti agar tidak ada kemiripan dengan toko IKEA. Sedangkan berita buruknya adalah Shaw tidak sepenuhnya mengerti bagaimana cara melakukan hal tersebut. Aspek-aspek seperti warna kuning dan biru memang terinspirasi dari IKEA, tetapi dia tidak mengerti apa yang dapat dilakukan terkait dengan “furnitur yang terlihat mirip seperti furnitur di IKEA” misalnya.

Solusi yang dilakukan oleh Shaw saat ini adalah “dengan mengganti seluruh hal yang berwarna biru atau kuning dan menambahkan warna merah mencolok dimana-mana,” ujar Shaw. “menghilangkan seluruh furnitur yang memiliki unsur Scandinavian, mengganti seluruh poster, dan mungkin akan menghilangkan jalurnya (dari lantai)”. (Rizky Fajar Mahardhika)






