Gianni Infantino selaku presiden FIFA telah melakukan pembelaan luar biasa terhadap Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, dan menyarankan agar negara-negara Eropa harus meminta maaf selama 3.000 tahun kedepan sebelum mengkritik negara ini. Dikutip dari Joe.co.uk.
Piala Dunia paling kontroversial yang dimulai pada hari Minggu 20 November, di Doha, dengan catatan hak asasi manusia, Qatar sudah berada di bawah pengawasan yang ketat sejak dianugerahi turnamen pada tahun 2010 lalu, Qatar telah telah mengahadapi kritik keras khususnya terhadap sikapnya mengenai hubungan sesama jenis dan perlakuan terhadap pekerja imigran.

Tetapi Infantino selaku presiden FIFA membela dengan penuh semangat terhadap turnamen dan mengutuk negara-negara Barat dan Eropa sebagai negara munafik atas kritik mereka terhadap catatan hak asasi manusia di Qatar.
Infantino dalam pidatonya mengatakan bahwa, ia saat pidato tersebut merasa menjadi orang Qatar, Arab, Afrika, orang gay, orang cacat, dan merasa seperti seorang pekerja imigran, tetapi jika melihat faktanya, Infantino bukan berasal dari Qatar, Arab, maupun Afrika, ia juga bukan orang gay, orang cacat, maupun seorang pekerja imigran, Infantino mengatakan hal tersebut, karena ia pernah mengalami bagaimana rasanya didiskriminasi, diintimidasi, dan diasingkan sebagai pendatang.
Apa yang negara-negara Eropa telah lakukan di seluruh dalam 3.000 tahun terakhir harus dibayar dengan meminta maaf selama 3.000 tahun ke depan, sebelum mulai memberikan pelajaran moral kepada orang-orang, ujar Infantino.
Tidak terhitung berapa banyak perusahaan bisnis Eropa dan Barat yang bisa menghasilkan jutaan bahkan miliaran dari Qatar, tetapi tidak banyak dari mereka yang mau membahas hak-hak pekerja imigran dengan pihak yang bersangkutan, mereka seakan-akan tidak peduli apa informasi dari pihak yang bersangkutan mengenai pekerja imigran.

Sebuah investigasi yang dilakukan oleh Guardian, pada Februari tahun lalu, Dilansir dari Joe.co.uk mengenai pekerja imigran yang gugur di Qatar sejak negara tersebut memenangkan tawaran Piala Dunia, menemukan angka yang berasal dari Kedutaan besar negara-negara Barat dan Eropa di Qatar, mengenai pekerja imigran yang gugur. Namun pemerintah Qatar selalu angka tersebut tidak benar, karena tidak semua kematian yang di catat merupakan orang-orang yang bekerja pada proyek-proyek terkait proyek Piala Dunia.





