Pada acara Airbus Summit 2022 yang digelar pada tanggal 30 November lalu, Airbus mengumumkan bahwa pihaknya tengah mengembangkan mesin dengan bahan bakar bertenaga hidrogen dan Airbus mempunyai rencana untuk mengujinya pada pesawat komersial terbesar yang pernah mengudara.
Raksasa penerbangan milik Perancis ini akan memasang mesin dan diletakkan di antara sayap dan ekor A380 superjumbo yang telah dimodifikasi. Perkiraan uji coba penerbangan ini akan dilakukan pada tahun 2026, yang menjadi bagian dari inisiatif Airbus ZEROe untuk menerbangkan pesawat tanpa emisi di tahun 2035.
Dilansir dari edition.cnn.com, Mathias Andriamisaina yang merupakan kepala demonstran dan pengujian ZEROe di Airbus, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “dalam hal aerodinamika, A380 adalah pesawat yang sangat stabil. Jadi pod yang dipasang ke badan pesawat belakang melalui stub tidak menimbulkan banyak masalah.
“Airbus telah mengungkapkan desain konsep dari pesawat terbang berbahan bakar hidrogen cair dan mesin pembakaran, namun, wakil presiden Pesawat Tanpa Emisi, Glenn Llewellyn, memberikan pendapatnya bahwa sel bahan bakar kemungkinan cukup untuk menggerakkan sebuah pesawat komersial yang lebih kecil.

Hidrogen diubah menjadi listrik menggunakan mesin dengan sel bahan bakar yang kemudian akan menggerakkan baling-baling. “Pada skala besar, dan jika target teknologi tercapai, mesin sel bahan bakar mungkin dapat memberi daya pada pesawat 100 penumpang dengan jangkauan sekitar 1.000 mil laut,” tambahnya.
Hidrogen sudah diperkirakan akan menjadi alternatif bahan bakar jet tradisional, baik dari segi bahan bakar yang mudah terbakar atau digunakan dalam menghasilkan listrik melalui sel bahan bakar.
Industri penerbangan menghasilkan sekitar 2,8% emisi CO2 global, namun, menghadapi tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan sektor lain dalam dekarbonisasi itu sendiri dan memiliki kemajuan yang lambat.
Meskipun pesawat berbahan bakar hidrogen telah dikembangkan sejak pertengahan abad ke-20, pesawat ini menghadapi tantangan dan hambatan yang signifikan, terutama pada kepadatan energi hidrogen yang rendah jika dibandingkan dengan minyak tanah, dan ketersediaannya serta harga yang rendah secara historis.
Infrastruktur yang diperlukan dalam proses produksi juga menjadi hambatan. pada Airbus Summit 2022, Guillaume Faury yang merupakan bos Airbus, mengatakan jika hal tersebut menjadi sebuah “kekhawatiran besar” dan bisa menggagalkan rencana perusahaan terkait dengan pengenalan pesawat bertenaga hidrogen pada tahun 2035.






