Situs pemerintah dan pendidikan saat ini tengah disusupi oleh iklan-iklan yang berkaitan dengan judi online. Ahli siber memberitahukan alasan kenapa iklan-iklan tersebut masih sering muncul di situs pemerintah dan pendidikan.
Dilansir dari inet.detik.com, Pratama Persadha, selaku Chairman CISSReC, menyatakan bahwa pemasaran situs judi online sudah lama menyerang dan menyusupi situs-situs pemerintah dan pendidikan.
Pratama memberikan pernyataan kepada detikINET pada hari Rabu bahwa, “pemasaran tersebut dilakukan oleh para pemilik situs judi online sejak Kominfo melakukan takedown terhadap situs-situs judi online. Meskipun belum semua situs judi online yang di-takedown, tetapi, hal tersebut mendorong para pelaku bisnis judi online untuk melakukan langkah jaga-jaga bagi berjalannya situs judi online milik mereka.”
Pratama juga mengatakan bahwa para pelaku kejahatan siber ini memindahkan dan membuat situs mirroring di dalam website perguruan tinggi dan website milik pemerintah. Ada beberapa situs pendidikan dan pemerintah yang sudah disusupi oleh judi online.

Menurut Pratama, ada dua tujuan para pelaku menyusupi situs judi online mereka di situs pemerintah dan pendidikan. Yang pertama, sebagai tindakan pencegahan apabila situs utama mereka di-takedown oleh Kominfo, sehingga pemilik situs judi online tersebut dapat memberikan informasi link judi online ke anggota mereka.
“Jadi, sistem situs judi online ini bersifat membership, para pemainnya akan diminta untuk memberikan nomor WhatsApp yang aktif sehingga admin dapat menghubungi para pemain 24 jam. Para pemilik situs judi online tinggal mengirim pesan melalui WhatsApp terkait link situs judi online yang bisa diakses normal,” kata Pratama.
Yang kedua, menyusupi situs judi online ke dalam situs pendidikan perguruan tinggi dinilai lebih aman karena keamanan sibernya jarang dilakukan pengecekan.
Hal tersebut telah dibuktikan dengan adanya penemuan situs judi online di laman pendidikan itu oleh CISSReC, bahkan untuk langkah perbaikannya terkesan lambat. “Artinya belum banyak perguruan tinggi yang memperdulikan kemanan siber dari aset digital mereka,” tambah Pratama.
Ada beberapa kriteria situs isntansi pemerintah, perguruan tinggi, atau situs lainnya yang cenderung mudah diserang oleh hacker ataupun disusupi oleh situs judi online. Situs yang jarang dilakukan pengecekan rutin oleh tim admin akan memiliki resiko besar untuk disusupi situs judi online maupun situs ilegal lainnya.
Pratama mengungkapkan bahwa, para pelaku situs judi online melihat bahwa situs pendidikan, termasuk perguruan tinggi, lebih mudah untuk disusupi dibandingkan dengan situs lembaga negara dan kementerian yang telah menerapkan sistem Computer Security Insident Respond Team (CSIRT).
Pratama mengatakan, “meski begitu, bukan berarti situs instansi pemerintah sulit untuk ditembus dan diretas, sejauh yang kita lihat, banyak situs milik pemerintah yang sudah disusupi oleh situs judi online.
Hal ini membuktikan bahwa kemanan siber belum menjadi prioritas utama bagi lembaga-lembaga di Indonesia. Karena itu pembentukan sistem CSIRT ini sangat mendesak di setiap lembaga.”
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, Pratama mengungkapkan telah memerintahkan setiap lembaga agar melakukan pengecekan terhadap situs mereka apakah disusupi oleh situs judi online atau tidak.
Kominfo bersama BSSN tengah bekerjasama untuk memberikan informasi ke lembaga terkait mana saja situs yang telah disusupi oleh situs judi online.
“Dengan informasi dan himbauan formal, seharusnya situs judi online yang menyusupi situs pemerintah dapat segera di-takedown,” ujar Prartama. Selain itu, Pratama menambahkan bahwa, netizen juga dapat membantu apabila menemukan situs-situs penyusup bisa segera menghubungi lembaga terkait melalui akun media sosial.
“Bila tidak segera dilakukan perbaikan, maka ujungnya akan menjadi sebuah konten yang viral dan pada akhirnya menjadi perhatian dari lembaga yang mengalami peretasan ini,” ujar Pratama.






