Muncul Baru Gagal Ginjal Akut, BPOM Sudah Menghentikan Obat Yang Dikonsumsi Untuk Pasien

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan sudah mengeluarkan surat perintah, dengan mengehentikan sementara produksi distribusi obat yang dikonsumsi oleh pasien gagal ginjal akut. (Photo : SHUTTERSTOCK/SUMIRE8)
0 0
Read Time:2 Minute, 6 Second

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan sudah mengeluarkan surat perintah, dengan mengehentikan sementara produksi distribusi obat yang dikonsumsi oleh pasien gagal ginjal akut (acute kidney injury/AKI), menyusul adanya temuan dua kasus baru.

Oleh karena itu, terdapat dua kasus baru ialah satu konfirmasi serta satu kasus suspek, penghentian sementara produksi dan distribusi obat itu dilakukan hingga investigasi selesai dilaksanakan.

Seperti yang dikatakan oleh BPOM bahwa langka yang dibuat menjadi bukti kehati-hatian meski investigasi terhadap penyebab sebenarnya kasus ini masih berlangsung.

Meskipun salah satu obat sirup dikonsumsi oleh pasien gagal ginjal akut sampai meninggal adalah merek Praxion.

Maka dari itu, BPOM mengeluarkan perintah penghentian sementara produksi dan distribusi obat yang dikonsumsi pasien sampai investigasi selesai dilakukan, “ujar BPOM dalam keterangan pers, Senin (6/2/2023).

Obat sirup dikonsumsi oleh pasien gagal ginjal akut sampai meninggal adalah merek Praxion. (Photo : iStock/spukkato)

Terhadap perintah penghentian sementara dari BPOM, industri farmasi pemegang izin edar obat sudah lakukan voluntary recall atau penarikan obat secara sukarela. BPOM sudah katakan dan lakukan investigasi di atas sampel produk obat dan bahan baku dari sisa obat pasien.

Sampel dari peredaran tempat produksi sudah diuji melalui laboraturium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN).

“BPOM sudah melakukan pemeriksaan ke sarana produksi terkait Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB),” ujar BPOM.

Namun, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohammad Syahril sudah mengatakan akan kembali dengan mengeluarkan surat kewaspadaan kepada semua pihak yang terlibat, meliputi dinas kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga organisasi profesi kesehatan.

“Mengeluarkan surat terhadap kewaspadaan dengan tanda klinis gagal ginjal akut. Walaupun pengguna obat sirup merupakan penyebab kasus baru masih perlukan investigasi lebih lanjut lagi,”ujar Syahril.

Dari sisi lain, Kemenkes sudah berkerja sama dengan berbagai pihak seperti IDAI, BPOM, ahli epidemiologi, Labkesda DKI, Farmakolog, serta para guru besar dan Puslabfor Polri, dengan melakukan penelusuran epidemiologi dan memastikan penyebab pasti, faktor risiko yang menyebabkan gangguan ginjal akut. “Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sampel obat dan darah pasien,” ujar Syahril.

Tidak hanya itu, bahkan pemeriksaan selanjutnya sampel obat dan darah pasien,”ujar Syahril.

Dilansir dari Kompas.com, kasus gagal ginjal pertama kali telah dilaporkan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Satu dari dua kasus ini yang diderita oleh anak di Usia 1 tahun, gejala tidak bisa buang air kecil dan akhirnya meninggal dunia. Dengan dilaporkan tambahan kasus baru gagal ginjal sampai (5/2/2023) tercatat 326 terkena gagal ginjal dan satu suspek tersebar di 27 provinsi di Indonesia.

Jumlah yang sudah dinyatakan sembuh mencapai 116 kasus, sedangkan enam kasus masih menjalani perawatan di RSCM Jakarta.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today