HAARP Dikaitkan Dengan Gempa Turki, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG: “Hanya Angan-angan Kosong”

Para penganut teori konspirasi mengatakan bahwa HAARP kemungkinan menjadi dalang dibalik gempa Turki. (Photo: trtworld.com)
0 0
Read Time:2 Minute, 2 Second

Menurut beberapa orang yang menganut teori konspirasi menyatakan bahwa teknologi High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) yang dikembangkan oleh Amerika Serikat, kemungkinan menjadi dalang di balik gempa dahsyat yang melanda Turki dan Suriah.

Dilansir dari cnnindonesia.com, selang beberapa waktu setelah peristiwa gempa itu terjadi, media sosial dipenuhi oleh berbagai komentar yang mengatakan bahwa bencana ini disebabkan oleh teknologi rekayasa kebumian (geo-engineering) dengan indikasi-indikasi yang ada, salah satunya adalah petir.

Para penganut teori konspirasi, yang dimana menurut para ahli kebanyakan dari mereka bermasalah secara psikologis, menunjuk teknologi HAARP Amerika Serikat sebagai tersangkanya.

Dikutip dari Arab News, Ibrahim Melih Gokcek, selaku Wali Kota Ankara, mengungkapkan bahwa kejadian seperti ini bukan kali pertama bagi Turki untuk dijadikan sebagai target gempa “buatan manusia”.

Salah seorang pengguna Twitter membuat sebuah cuitan di media sosial tersebut dengan mengatakan bahwa sambaran petir pada saat sebelum gempa bumi “selalu terjadi di dalam operasi [HAARP]” dan menyatakan jika gempa bumi “terlihat seperti sebuah operasi penghukuman yang dilakukan oleh NATO atau Amerika Serikat.”

Menurut situs University of Alaska Fairbanks, HAARP merupakan sebuah program penelitian ionosfer (salah satu lapisan atmosfer yang terionisasi akibat menyerap radiasi Matahari) yang didanai oleh militer Amerika Serikat, pemerintah, dan Universitas Alaska.

Dilaporkan HAARP berlokasi di 62,39° Lintang Utara, 145,15° Bujur Barat, yang kemudian diterjemahkan menjadi 63,09° Lintang Magnetik Utara dan 92,44° Bujur Magnetik Barat. Di dalam garis lintang magnet ini, HAARP mampu untuk melakukan pengamatan terhadap daerah yang kaya akan fenomena geofisika.

Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, kaitan HAARP dengan gempa bumi merupakan sebuah “angan-angan kosong”. (Photo: uaf.edu/JR Ancheta)

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, mengatakan bahwa petir yang terjadi sesaat sebelum gempa merupakan sebuah hal yang biasa dikarenakan adanya pergerakan tektonik.

Melalui akun Twitternya, Daryono memberikan pernyataan dengan menyampaikan bahwa, “saat batuan dari kulit bumi mengalami tekanan yang hebat dan sangat kuat, mendekati batas dari elastisitasnya, maka sebelum failure akan melepaskan sebuah gelombang elektromagnetik, yang menjadi awal cerita lightning during the earthquake, pencahayaan gempa. “Seismoelectric effect.”

Menurutnya, hal yang sama juga telah terjadi di Indonesia pada saat gempa di tanggal 16 Februari 2014 di lereng Gunung Semeru, Jawa Timur.

“Tidak usah jauh-jauh ke Turki, gempa Sumogawe di lereng utara Merbabu pada tanggal 16 Februari 2014 juga mengalami fenomena earthquake lightning,” ungkap Daryono. Sehingga, Daryono mengatakan bahwa kaitan antara HAARP dengan gempa bumi adalah sebuah “angan-angan kosong”.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today