Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa sekitar 15 orang tewas akibat bencana tanah longsor yang melanda wilayah di Pulau Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Dilansir dari CNNIndonesia.com, menurut Abdul Muhari, yang merupakan Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, pada hari Kamis, menjelaskan bahwa, “korban tewas akibat bencana tanah longsor di Kecamatan Serasan ada sebanyak 15 orang.”
Abdul juga menambahkan bahwa jumlah korban tewas tersebut didapatkan pada saat tim Satgas Gabungan telah menemukan kembali jasad dari para korban tewas pada hari Rabu. Namun, temuan dari para korban tewas itu masih akan dilakukan pendataan dan diidentifikasi lebih lanjut yang kemudian dapat dilaporkan sebagai data nasional.
Dilaporkan sebanyak 35 orang korban lainnya masih belum dapat ditemukan. Menurut Abdul, para warga yang belum ditemukan itu, kemungkinan masih terperangkap di dalam material longsor yang diperkirakan memiliki kedalaman hingga 4 meter.
Abdul mengatakan, “sebanyak 35 warga masih dinyatakan hilang sejak bencana tanah longsor terjadi di Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada hari Senin hingga hari Rabu.”

Letjen TNI Suharyanto, selaku Kepala BNPB, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang menghalangi dan menyulitkan terkait proses pencarian para korban.
Suharyanto juga menambahkan, kondisi cuaca di Pulau Serasan, selalu diguyur hujan sepanjang hari dengan intensitas ringan hingga tinggi dalam jangka waktu seminggu terakhir.
Akibat kondisi cuaca seperti itu, proses pencarian para korban tidak memungkinkan untuk dilakukan, dan untuk sementara proses pencarian itu harus diberhentikan.
Dikarenakan hal itu, pihak BNPB akan berkoordinasi dengan BRIN, BMKG, serta TNI terkait Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). “Sehingga kondisi cuaca dapat kembali terang dan pencarian bisa dilakukan,” ungkap Suharyanto.
Suharyanto juga akan memastikan untuk menambah personel tim satgas gabungan karena wilayah yang terkena dampak dari tanah longsor itu cukup luas dan memerlukan lebih banyak tenaga.
Status bencana dinyatakan sebagai status tanggap darurat atas tanah longsor di wilayah tersebut, menurut Patli Muhamad, selaku Tim Posko Informasi dan Komunikasi Publik Kabupaten Natuna.
“Status bencana menjadi status tanggap darurat dengan masa tujuh hari terhitung sejak hari Senin. Kondisi cuaca terkini hujan,” kata Patli pada hari Selasa.






