Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Stanford University, sekitar lebih dari sepertiga ilmuwan percaya bahwa kecerdasan buatan atau AI, dapat mengakibatkan “bencana tingkat nuklir”, yang dimana universitas tersebut juga menggarisbawahi kekhawatiran di bidang ini terkait risiko yang disebabkan oleh teknologi yang berkembang pesat.
Dilansir dari Aljazeera.com, dikabarkan bahwa survei tersebut adalah salah satu temuan yang paling disorot dalam Laporan Indeks AI 2023, yang dipublikasikan oleh Standford Institude for Human-Centered Artificial Intelligence, yang mengeksplorasi terkait perkembangan, risiko, dan peluang terbaru di dalam bidang AI yang tengah berkembang.
Para penulis di dalam laporan itu mengungkapkan bahwa, “sistem-sistem ini menunjukkan kemampuan dalam menjawab pertanyaan, dan pembuatan teks, gambar, dan kode yang tidak terbayangkan satu dekade yang lalu, dan mereka mengungguli keadaan seni dalam banyak tolak ukur, baik yang lama maupun yang baru.”
“Namun, mereka rentan terhadap halusinasi, secara rutin bias, dan dapat ditipu untuk melayani tujuan jahat, menyoroti tantangan etika yang rumit yang terkait dengan penerapannya,” tambah penulis-penulis itu.

Laporan yang dipublikasikan pada awal bulan April ini, muncul di tengah meningkatnya seruan untuk peraturan AI menyusul beberapa kontroversi seperti bunuh diri yang terkait dengan chatbot dan video palsu yang memperlihatkan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, tengah menyerah kepada pasukan Rusia yang menyerang.
Diketahui bahwa pada bulan lalu, Elon Musk dan Steve Wozniak, yang merupakan salah satu pendiri Apple, termasuk di antara 1.300 penandatangan surat terbuka yang memberikan seruan diadakannya jeda bulan enam bulan untuk melatih sistem AI di luar level chatbot Open AI GPT-4 dikarenakan “sistem AI yang kuat harus dikembangkan hanya jika kita yakin bahwa dampaknya positif dan risikonya dapat dikelola.”
Berdasarkan survei yang paling disorot dalam Laporan Indeks AI 2023, 36 persen ilmuwan menyampaikan bahwa sebuah keputusan yang diciptakan oleh AI, diketahui dapat mengakibatkan bencana tingkat nuklir, sedangkan untuk 73 persen ilmuwan menyatakan bahwa hal itu dapat segera menuju pada “perubahan sosial yang revolusioner”.
Survei tersebut menyimak pendapat dari 327 ahli dalam pemrosesan bahasa alami, yang merupakan sebuah cabang ilmu komputer yang menjadi kunci di dalam pengembangan chatbot seperti GPT-4, antara bulan Mei dan Juni pada tahun lalu, sebelum dirilisnya ChatGPT Open Ai di bulan November yang menggegerkan dunia teknologi.
Laporan Stanford itu juga melaporkan bahwa jumlah “insiden dan kontroversi” yang berkaitan dengan AI telah mengalami peningkatan sebesar 26 kali lipat dalam satu dekade terakhir.






