Pada hari Senin, saham perusahaan Alphabet Inc dikabarkan mengalami penurunan hingga empat persen setelah rilisnya sebuah laporan yang mengungkapkan bahwa Samsung Electronics milik Korea Selatan tengah memikirkan untuk mengganti mesin pencari default pada perangkat miliknya, dari Google menjadi Bing milik Microsoft.
Dilansir dari Aljazeera.com, laporan yang dirilis pada akhir minggu lalu oleh New York Times itu, menggarisbawahi tantangan besar yang akan dihadapi oleh bisnis mesin pencari senilai Rp 2.405 triliun per tahun milik Google dari Bing.
Berdasarkan laporan tersebut, mengutip pesan internal, Google memberikan reaksi “kepanikan” terhadap ancaman itu, dikarenakan perusahaan ini memperoleh pendapatan sekitar Rp 44,5 triliun per tahun dari kontraknya dengan Samsung.
Laporan itu juga menambahkan bahwa sekitar Rp 296,9 triliun lainnya berasal dari kontrak serupa dengan Apple yang akan diperpanjang kontraknya tahun ini.

Google memberikan tanggapannya kepada kantor berita Reuters, dengan menyampaikan bahwa saat ini mereka tengah berupaya untuk menghadirkan fitur-fitur baru bertenaga Kecerdasan Buatan (AI) ke dalam mesin pencariannya tanpa memberikan komentar apapun terkait hubungannya dengan Samsung.
Selama beberapa puluh tahun, Google diketahui telah mendominasi pasar mesin pencarian dengan pangsa lebih dari 80 persen, tetapi, Wall Street memiliki kekhawatiran bahwa perusahaan itu akan tertinggal dari Microsoft dalam perlombaannya dibidang Kecerdasan Buatan (AI) yang bergerak dengan cepat.
Pada tanggal 8 Februari, perusahaan induk Alphabet kehilangan nilai sebesar Rp 1484 triliun setelah chatbot barunya yang diberi nama, Bard, memberikan informasi yang salah dan tidak akurat di dalam sebuah video promosi dan sebuah acara perusahaan yang gagal memukau.
Dilaporkan bahwa pada hari Senin saham perusahaan induk tersebut jatuh ke angka US$104,90 dan menghapus sekitar hampir Rp 742,4 triliun dari kapitalisasi pasar Alphabet. Sedangkan, Microsoft unggul dalam pasar yang lebih luas dengan kenaikan sebesar satu persen.
James Cordwell, yang merupakan seorang analis dari Atlantic Equities, mengungkapkan bahwa, “para investor khawatir Google telah menjadi perusahaan monopoli yang malas dalam pencarian, dan perkembangan beberapa bulan terkahir ini telah menjadi peringatan.”
Berdasarkan laporan New York Times, Google tengah berlomba untuk dapat membangun mesin pencari dengan tenaga AI baru yang akan menawarkan pengalaman yang lebih personal jika dibandingkan dengan layanannya saat ini, yang dimana layanan tersebut juga akan diberikan peningkatan dengan fitur-fitur AI.





