Berdasarkan pernyataan dari para pejabat, pihak militer Korea Selatan telah melepaskan sebuah tembakan peringatan untuk menghalau kapal milik Korea Utara yang tengah melintasi perbatasan maritim yang disengketakan oleh kedua negara tersebut.
Dilansir dari Aljazeera.com, pada hari Minggu, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) mengungkapkan bahwa pihaknya melepaskan tembakan peringatan dan memberitahukan tanda peringatan untuk putar balik ke arah kapal patroli milik Korea Utara yang sudah melanggar Garis Batas Utara (NLL) yang terjadi pada hari Sabtu pukul 11 pagi waktu setempat.
JCS menyampaikan dalam sebuah pernyataan bahwa, “militer kami mempertahankan postur tempur yang tegas sambil memantau pergerakan musuh sebagai persiapan untuk potensi provokasi terkait pelanggaran NLL oleh kapal patroli Korea Utara.”
JCS juga menambahkan bahwa selama operasi itu berlangsung, sebuah kapal patroli milik Korea Selatan melakukan “kontak kecil” dengan kapal penangkap ikan milik China yang berada di dekatnya dikarenakan jarak pandang yang buruk, menyebabkan beberapa kru Korea Selatan mengalami sedikit luka ringan dan tidak ada masalah keamanan.

Dilaporkan bahwa serangan dari Korea Utara itu terjadi pada saat meningkatnya ketegangan akibat peningkatan kegiatan militer Korea Utara selama beberapa minggu terakhir, termasuk salah satunya adalah uji coba rudal balistik antarbenua berbahan bakar padat yang diluncurkan pada hari Jumat, yang dimana menurut para ahli akan memberikan fasilitas terhadap peluncuran rudal dengan sedikit peringatan.
Diketahui bahwa Korea Utara telah memberikan ancaman berupa aksi militer pada saat Korea Selatan dan Amerika Serikat menggelar latihan musim semi tahunan kedua negara itu sejak bulan Maret, dan menyebut latihan tersebut sebagai latihan untuk perang nuklir.
Kim Jong Un, yang merupakan Pemimpin Korea Utara, pada minggu ini telah memberikan perintah untuk memperkuat pencegahan perang dengan cara yang “lebih praktis dan ofensif” agar dapat melawan apa yang disebutnya sebagai langkah agresi oleh Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Pihak Korea Selatan dan Amerika Serikat menyampaikan bahwa latihan yang mereka lakukan bersifat defensif dan memiliki tujuan untuk mencegah Korea Utara.
Dikabarkan pejabat-pejabat Korea Selatan juga mengungkapkan bahwa Korea Utara belum memberikan tanggapan terhadap panggilan Korea Selatan melalui sambungan telepon antar-korea selama lebih dari seminggu, memicu kekhawatiran terkait potensi provokasi kinetik dikarenakan komunikasi melalui sambungan telepon ditujukan untuk menghalau adanya bentrokan yang tidak disengaja di sepanjang perbatasan laut dari kedua negara tersebut.





