Judi Online Meraja Lela, Indonesia Darurat Literasi?

0 0
Read Time:1 Minute, 33 Second

Di era teknologi informasi yang sangat pesat perkembangannya, tidak bisa di pungkiri bahwa semua publik dapat mengkonsumsi seluruh informasi dengan cepat melalui internet. Di samping itu, banyaknya fitur – fitur lain yang kerap digunakan oleh publik dalam pemanfaatan internet.

Salah satunya ialah bagaimana permainan judi online yang dimediumkan pada sebuah platform website. Seiring berjalannya waktu, para masyarakat di seluruh kalangan kerap memainkan judi online.

Dengan begitu, judi online menjadi salah satu fenomena sosial yang sulit untuk dihentikan dikarenakan para masyarakat harus menghadapi tantangan utama dalam kegiatan tersebut, yakni kecanduan.

BBC Indonesia melaporkan sejak 2018 hingga Mei 2022, Kominfo telah memutus akses ke 499.645 aplikasi judi online di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa banyaknya orang yang memiliki kecanduan berlebih bahkan hingga mengalami kesulitan mengendalikan kebiasaan berjudi online.

Di samping itu, Survei Populix 2023 berjudul “Understanding the Impact of Online Gambling Ads Exposure” dalam laman Jalin.co.id menjelaskan bahwa, 84 persen pengguna internet di Indonesia sering melihat iklan judi online di media sosial seperti Instagram, YouTube, dan Facebook. Iklan ini sering kali dipromosikan oleh para kalangan influencer yang memiliki jangkauan audiens lebih luas, membuatnya semakin sulit untuk menghindari dari resiko kecanduan.

Sedangkan, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan bahwa, di tahun 2024, jumlah pengguna internet di Indoensia mencapai 221.563.479 orang dari total populasi 278.696.209 jiwa, dengan tingkat penetrasi internet tinggi hingga 79,5%. Angka ini memiliki kesimpulan, berarti hampir 80% dari populasi beresiko terpapar konten judi online dan menjadikannya masalah nasional yang sangat mendesak hingga darurat.

Penyebab utama dari terjadinya kasus judi online yang marak dilakukan masyarakat ialah bagaimana tantangan literasi keuangan. Inklusi keuangan sebagai akses masyarakat terhadap layanan keuangan sangat terus meningkat. Masih terdapat kesenjangan terhadap pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan resiko keamanan yang perlu ditingkatkan. Hal ini menyebabkan banyak individu yang kurang siap untuk menghadapi bagaimana resiko finansial termasuk bahaya yanag diakibatkan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today