Untuk Transisi Energi hingga 2040, PLN Butuh Dana Sebesar Rp 4.000 Triliun

PT PLN diperkirakan bakal membutuhkan dana mencapai Rp 4.000 triliun agar dapat mewujudkan transisi energi hingga 2040. (Source: PLN Indonesia Power)
0 0
Read Time:2 Minute, 22 Second

Suroso Isnandar, selaku Direktur Manajemen Risiko PT PLN (Persero), mengungkapkan bahwa perusahaan listrik negara tersebut diperkirakan bakal membutuhkan dana hingga mencapai US$ 235 miliar atau setara dengan Rp 4.000 triliun agar dapat mewujudkan transisi energi hingga 2040.

Pada hari Selasa, 10 Desember 2024, Suroso memberikan rincian terkait dengan kebutuhan yang diperlukan untuk melakukan transisi energi di sektor ketenagalistrikan pada saat menghadiri acara Bisnis Indonesia Economy Outlook 2025 di Raffles Hotel, Jakarta Selatan.

Dikabarkan bahwa PLN memiliki rencana untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU) dalam beberapa tahun ke depan.

Dilansir dari tempo.co, salah satu cara agar hal ini dapat dilakukan adalah dengan membangun additional renewable baseload, yang di mana berfungsi sebagai pembangkitan sumber energi baru terbarukan.

PLN memiliki rencana untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga uap batu bara dalam beberapa tahun ke depan. (Source: DBS.com)

Additional renewable baseload yang akan dibangun tersebut memiliki kapasitas mencapai 33 gigawatt, sehingga dibutuhkan dana US$ 80 miliar atau setara dengan Rp 1270,9 triliun dalam 15 tahun ke depan.

Selanjutnya, PLN juga membutuhkan dana sebesar US$ 33 miliar atau setara dengan Rp 524,2 triliun untuk mendirikan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) berkapasitas 22 gigawatt.

Sedangkan, untuk pembangunan tambahan Variable Renewable Energy (VRE), sebuah sumber energi terbarukan yang ketersediaannya tergantung pada cuaca, seperti angin maupun solar, PLN mengeklaim dibutuhkan dana sebesar US$ 43 miliar atau Rp 683,1 triliun.

Dikabarkan bahwa masih terdapat beberapa proyek lainnya yang bakal dibangun sebagai bagian dari rencana transisi energi PLN, yakni Accelerated Renewable Energy Development atau ARED untuk periode 2025 – 2040.

“Untuk membangun itu semuanya sampai dengan tahun 2040, kami perlu US$ 235 miliar. Itu kira-kira Rp 4.000 triliun,” ujar Suroso, dilansir dari tempo.co.

Melalui program ARED ini, PLN merencanakan 75 persen energi baru terbarukan serta 25 persen gas yang bertujuan untuk mengurangi emisi.

Dalam periode 15 tahun ke depan, PLN diperkirakan bakal menambahkan kapasitas dari pembangkit sebesar 102 gigawatt.

Berdasarkan jumlah tersebut, 75 gigawatt berasal dari energi terbarukan. Rinciannya meliputi 15 gigawatt tenaga angin, 27 gigawatt solar, 25 gigawatt tenaga air, serta 32 gigawatt hour (GWh) sistem penyimpanan energi baterai (BESS).

Dilaporkan bahwa di antara campuran energi terbarukan itu juga terdapat tujuh gigawatt energi panas bumi atau geothermal serta satu gigawatt biomassa.

Pemanfaatan dari kedua sumber energi tersebut sering kali mendapat kritikan dari para aktivis lingkungan. Greenpeace Indonesia menyebut penggunaan biomassa untuk melakukan co-firing PLTU itu sebagai “solusi semu” transisi energi.

Sementara itu, dilaporkan juga bahwa terdapat sejumlah proyek geothermal yang kerap ditolak oleh masyarakat adat karena dinilai telah mencemari sumber air sekitar.

Berdasarkan program ARED PLN, diketahui bahwa sumber energi batu bara sudah tidak pernah digunakan lagi. Meskipun masih ada gas, dengan PLTG berkapasitas 22 gigawatt.

Dikutip dari tempo.co, Suroso mengeklaim, “Tapi gas itu emisinya kurang lebih separuh, bahkan sepertiga, dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Ini yang akan kita kejar.”

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today