Kemarin Musyawarah Rakyat Banten Menuntut PIK-2 Dihentikan, Hari Ini Sidang Perdana Melawan Aguan dkk

Kemarin (Ahad, 15/12), berbagai elemen rakyat Banten, mengadakan Musyawarah Rakyat Banten di Aula Kecamatan Pontang, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. (Source: Pik2byagungsedayu.com)
0 0
Read Time:3 Minute, 12 Second

Koordinator TIM ADVOKASI MELAWAN OLIGARKI RAKUS PERAMPAS TANAH RAKYAT DI PIK 2 (TA-MORPTR-PIK2)

Kemarin (Ahad, 15/12), berbagai elemen rakyat Banten, mengadakan Musyawarah Rakyat Banten di Aula Kecamatan Pontang, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Musyawarah tersebut, meneguhkan kesimpulan dan kesepakatan rakyat Banten, untuk menolak proyek PIK-2 yang di PSN-kan, dan menuntut pemerintah untuk segera menghentikan proyek ini.

Sejalan dengan aspirasi rakyat Banten, gugatan yang kami ajukan terhadap Aguan, Anthoni Salim, PT PANI, PT Kukuh Mandiri Lestari, Jokowi, Airlangga Hartarto, Surta Wijaya dan Maskota, juga menuntut agar proyek PIK-2 dihentikan, baik yang berada di area PSN maupun diluar area yang ditetapkan sebagai PSN.

Saat menghadiri Musyawarah Rakyat di Pontang kemarin, penulis merasakan betul betapa masyarakat Banten sangat dirugikan oleh proyek PIK-2 yang di PSN-kan.

Ada yang kehilangan mata pencaharian, atau setidaknya akses untuk mencari nafkah berkurang baik sebagai petani, nelayan, pengelola tambak, pengelola hutan lindung dan pedagang ikan.

Ada yang dirugikan karena hilir mudik kendaraan truk proyek yang mengangkut material tanah timbun dalam waktu 24 jam non stop. Dari polusi, suara bising, jalanan kotor dan jika hujan licin, jalanan rusak, maraknya kecelakaan yang menimbulkan korban luka, cacat hingga meninggal dunia.

Hilangnya budaya Banten dengan peradaban Islam yang kental. Digusur secara fisik dan spiritual warisan peradaban Banten oleh kesombongan PIK-2.

Ada yang diintimidasi, dikriminalisasi. Permainan harga tanah, hingga pemukiman terdampak banjir karena proyek PIK-2. Bahkan Perwakilan dari Teluk Naga tidak jadi hadir, karena rumahnya terkena Banjir.

Sungai diurug (ditimbun), laut dipagari. Dampaknya, tambak dan irigasi persawahan mati. Nelayan kesulitan mencari ikan. Dan masih banyak lagi.

Hari ini (Senin, 16/12) adalah sidang pertama gugatan rakyat terhadap Aguan dkk. Materi gugatan perbuatan melawan hukum yang kami ajukan, merupakan realitas yang dialami oleh rakyat Banten.

Sebenarnya, kami menunggu tindakan resmi dari negara. Tindakan resmi yang menolong dan melindungi rakyat Banten, dari kekejaman dan kerakusan oligarki property jahat. Yang hanya berfikir tentang cuan, tanpa menghiraukan penderitaan rakyat yang terdampak proyek.

Sampai hari ini, Negara masih bungkam. Padahal, teriakan dan jeritan rakyat Banten makin perih, makin lirih, karena nyaris berputus asa.

Ada sajian puisi yang menarik, saat gelaran Musyawarah Rakyat Banten kemarin (14/12). Puisi dengan judul ‘KEPADA SIAPA? KEPADA YANG MANA?’.

Satu puisi yang mengabarkan bagaimana perihnya penderitaan rakyat Banten. Mereka, menjadi yatim dengan deritanya. Tak tau, mau mengadu kemana dan kepada siapa.

Sementara penguasa bungkam, mereka terus dirundung malang. Oligarki Property milik Aguan, terus mengerat dan merampas tanah Banten. Terus menimbulkan derita dan nestapa bagi rakyat Banten.

Penulis merasa haru, sekaligus bangga dan bahagia. Haru, karena suara aspirasi warga desa di Banten dalam acara tersebut, benar-benar sangat menyayat hati. Suara dari nurani murni rakyat Banten yang dirugikan oleh PIK-2, bukan suara buzer seperti yang disemprotkan oleh mulut Hendro Priyono, Yoris, Maskota atau Surta Wijaya, yang selalu membual tentang warga desa bahagia dengan adanya proyek PIK-2.

Bangga dan bahagia, karena rakyat Banten bersatu. Bersuara membela hak, peradaban dan warisan leluhurnya, yang dahulu diperjuangkan dengan keringat, darah dan air mata.

Penulis begitu menikmati sajian musyawarah Rakyat Banten. Karena menghadirkan kejujuran, ketulusan, dan keberanian.

Disekitar area Aula Pontang, dipasang sejumlah spanduk perjuangan. Ada juga, koleksi foto-foto kerusakan ekologi laut, jalan, fasilitas umum, sungai, hingga berbagai dampak buruk proyek PIK-2.

Disamping penulis, Kolonel Purn Sugeng Waras ketua FPPI juga tampak khidmat menyimak acara. MasyaAllah, penulis benar-benar bahagia, perjuangan melawan keserakahan oligarki property PIK-2 benar-benar telah diemban oleh pemiliknya, rakyat Banten yang hebat, rakyat Banten cucu-cucu dari Sultan Ageng Tirtayasa, rakyat Banten, murid-murid keturunan dari Syaikh an Nawawi Al Bantani.

Ya Allah, satukanlah rakyat Banten. Cerai beraikan para oligarki, sibukan orang zalim dengan orang zalim. Menangkanlah perjuangan kami. Agar kami kembali hanya menyembah kepada Mu, mempertahankan peradaban Islam Banten, dan menghentikan peradaban hedonis, sekuler, liberal ala Singapura yang diimport PIK-2, yang akan diterapkan di tanah Banten. Allahu Akbar! (Ahmad Khozinudin)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today