75 Ton Ikan di Danau Maninjau Sumbar Mati, Imbas dari Cuaca Ekstrem

Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencatat kematian ikan keramba jaring apung yang berada di Danau Maninjau, bertambah sebanyak 50 ton. (Source: Pemkab Agam)
0 0
Read Time:2 Minute, 3 Second

Berdasarkan laporan yang dicatat oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kematian ikan keramba jaring apung yang berada di Danau Maninjau, bertambah sebanyak 50 ton.

Sehingga total seluruh kematian ikan menjadi 75 ton, imbas dari angin kencang yang terjadi di kawasan danau tersebut sejak hari Minggu, 12 Januari 2025.

“Ini berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh penyuluh perikanan lapangan dari petani keramba jaring apung,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam Rosva Deswira di Lubuk Basung, Ahad, 19 Januari 2025 seperti dikutip Antara.

Total seluruh kematian ikan menjadi 75 ton, imbas dari angin kencang yang terjadi di kawasan danau tersebut sejak hari Minggu, 12 Januari 2025. (Source: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Dilansir dari tempo.co, Rosva mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang dikumpulkan hingga hari Sabtu, 18 Januari 2025, 50 ton ikan yang mati itu tersebar di kawasan Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya.

Diketahui bahwa ikan nila yang terdiri dari berbagai macam ukuran tersebut merupakan milik sejumlah petani keramba jaring ikan yang berasal dari puluhan petak keramba jaring apung di Danau Maninjau. “Ini data terakhir dan kami terus melakukan pendataan,” katanya, dilansir dari tempo.co.

Awalnya, pada hari Senin, 13 Januari 2025, berdasarkan laporan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam, terdapat sekitar 25 ton ikan yang mati di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya.

Kematian ikan tersebut diketahui tersebar di kawasan Jorong Lubuak Anyia, Banda Tangah serta Lubuak Kandang milik 12 petani keramba jaring apung.

Rosva mengatakan bahwa kematian seluruh ikan tersebut diakibatkan oleh angin kencang yang terjadi di wilayah itu sejak hari Minggu, 12 Januari 2025.

Dikabarkan bahwa cuaca ekstrem tersebut mendorong terjadinya pembalikan air yang berasal dari dasar danau ke permukaan.

Dampak dari pembalikan air itu menyebabkan air dengan kadar oksigen rendah naik ke permukaan yang membuat ikan mati.

Kematian ikan awal mulanya ditemukan di Nagari Bayua, kemudian beberapa hari setelahnya hal serupa juga terjadi di kawasan danau di Nagari Tanjung Sani.

Rosva mengimbau kepada masyarakat untuk mengubur ikan yang telah mati tersebut, dan tidak membuangnya ke danau, agar tidak mencemari Danau Maninjau.

Rosva menjelaskan bahwa sebenarnya Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam telah membuat surat edaran dengan Nomor 500.5.3.3/435/DKPP/2024 perihal prediksi cuaca ekstrem dan upaya pencegahan kematian Ikan di Danau Maninjau.

Surat yang dikeluarkan pada tanggal 21 November 2024 itu telah diserahkan ke wali nagari atau kepala desa serta Camat Tanjung Raya agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan akan adanya kemungkinan kematian ikan diakibatkan oleh cuaca ekstrem.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today